Kamis, 27 September 2018

Pengkajian HIV AIDS Pada Anak


BAB I
PENDAHULUAN


1.1.      Latar Belakang
Menurut Departemen Kesehatan Republik Indonesia (2006), pola penularan HIV pada pasangan seksual berubah pada saat ditemukan kasus seorang ibu yang sedang hamil diketahui telah terinfeksi HIV. Bayi yang dilahirkan ternyata juga positif terinfeksi HIV. Ini menjadi awal dari penambahan pola penularan HIV/AIDS dari ibu ke bayi yang dikandungnya. Hal serupa digambarkan dari hasil survey pada tahun 2000 dikalangan ibu hamil di Provinsi Riau dan Papua yang memperoleh angka kejadian infeksi HIV 0,35% dan 0,25%. Sedangkan hasil tes suka rela pada ibu hamil di DKI Jakarta ditemukan infeksi HIV sebesar 2,86%. Berbagai data tersebut membuktikan bahwa epidemi AIDS telah masuk kedalam keluarga yang selama ini dianggap tidak mungkin tertular infeksi.
Pada tahun 2015, diperkirakan akan terjadi penularan pada 38.500 anak yang dilahirkan dari ibu yang terinfeksi HIV. Sampai tahun 2006, diprediksi 4.360 anak terkena HIV dan separuh diantaranya meninggal dunia. Saat ini diperkirakan 2320 anak yang terinfeksi HIV. Anak yang didiagnosis HIV juga akan menyebabkan terjadinya trauma emosi yang mendalam bagi keluarganya. Orang tua harus menghadapi masalah berat dalam perawatan anak, pemberian kasih sayang dan sebagainya dapat mempengaruhi pertumbuhan mental anak (Nurs dan Kurniawan, 2013).
Hal tersebut menyebabkan beban negara bertambah dikarenakan orang yang terinfeksi HIV telah masuk kedalam tahap AIDS, yang ditularkan akibat hubungan Heteroseksual sebesar 36,23%. Permasalahan bukan hanya sekedar pada pemberian terapi anti retroviral (ART), tetapi juga harus memperhatikan permasalahn pencegahan penularan walaupun sudah mendapat ART (Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 2006).
Prinsip pemberian ART pada anak hampir sama dengan dewasa, tetapi pemberian ART pada anak memerlukan perhatian khusus tentang dosisi dan toksisitasnya. Pada bayi, sistem kekebalannya mulai dibentuk dan berkembang selama beberapa tahun pertama. Efek obat pada bayi dan anak juga akan berbeda dengan orang dewasa (Nurs dan Kurniawan, 2013). Pedoman pengobatan HIV/AIDS pada anak menurut (Departemen Kesehatan Indonesia: Direktotat Jendran Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan, 2008) yaitu Rejimen Lini pertama yang direkomendasikan adalah 2 Nucleosida Reverse Transkriptase Inhibitor (NRTI) + 1 Non Nucleosida Reverse Transkriptase Inhibitor (NNRTI). Penatalaksanaan kasus HIV pada Anak, tidak hanya pengaturan ART, namun juga faktor Nutrisi harus diperhatikan mengiingat anak adalah fase pertumbuhan.
1.2.      Rumusan Masalah
a.       Apa yang dimaksud dengan HIV/AIDS?
b.      Apa sajakah penyebab atau factor resiko hiv aids pada anak?
c.       Bagaimanakah cara penularan HIV/AIDS pada anak?
d.      Apa sajakah tanda gejala yang dialami anak?
e.       Bagaimanakah cara pencegahan penularan HIV/AIDS pada anak?
f.       Bagaimanakah penatalaksaan HIV/AIDS pada anak?
1.3.      Tujuan
a.       Agar dapat mengetahui penjelasan HIV AIDS
b.      Untuk mengetahui  penyebab atau factor resiko hiv aids pada anak
c.       Untuk memahami cara penularan HIV/AIDS pada anak
d.      Agar mengetahui tanda gejala yang dialami anak
e.       Untuk memahami cara pencegahan penularan HIV/AIDS pada anak
f.       Untuk memahami penatalaksaan HIV/AIDS pada anak








BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1  Definisi
Acquired immunodeficiency syndrom (AIDS) suatu gejala penyakit yang menunjukkan kelemahan atau kerusakan daya tahan tubuh atau gejala penyakit infeksi tertentu / keganasan tertentu yang timbul sebagai akibat menurunnya daya tahan tubuh (kekebalan) oleh virus yang disebut dengan HIV. Sedang Human Imuno Deficiency Virus merupakan virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh manusia yang kemudian mengakibatkan AIDS. HIV sistem kerjanya menyerang sel darah putih yang menangkal infeksi. Sel darah putih tersebut termasuk dalam limfosit yang disebut dengan T4 atau sel T penolong. ( T helper ), atau juga sel CD 4. HIV tergolong dalam kelompok retrovirus sub kelompok lentivirus. Juga dapat dikatakan mempunyai kemampuan mengopi cetak materi genetika sendiri didalam materi genetik sel - sel yang ditumpanginya dan melalui proses ini HIV dapat mematikan sel - sel T4. ( DEPKES: 1997 )
AIDS adalah salah satu penyakit retrovirus epidemic menular, yang disebabkan oleh infeksi HIV, yang pada kasus berat bermanifestasi sebagai depresi berat imunitas seluler, dan mengenai kelompok resiko tertentu, termasuk pria homoseksual, atau biseksual, penyalahgunaan obat intra vena, penderita hemofilia, dan penerima transfusi darah lainnya, hubungan seksual dan individu yang terinfeksi virus tersebut. ( DORLAN 2002 )
2.2  Etiologi
Resiko HIV utama pada anak-anak yaitu:
a.       Air susu ibu yang merupakan sarana transmisi
b.      Pemakaian obat oleh ibunya
c.       Pasangan sexual dari ibunya yang memakai obat intravena
d.      Daerah asal ibunya yang tingkat infeksi HIV nya tinggi.
2.3  Cara Penularan
Penularan HIV ke Bayi dan Anak, bisa dari ibu ke anak, penularan melalui darah, penularan melalui hubungan seksual (pelecehan seksual pada anak). Penularan dari ibu ke anak terjadi karena wanita yang menderita HIV/AIDS sebagian besar (85%) berusia subur (15-44 tahun), sehingga terdapat risiko penularan infeksi yang bisa terjadi saat kehamilan (in uteri). Berdasarkan laporan CDC Amerika, prevalensi penularan HIV dari ibu ke bayi adalah 0,01% sampai 0,7%. Bila ibu baru terinfeksi HIV dan belum ada gejala AIDS, kemungkinan bayi terinfeksi sebanyak 20% SAMPAI 35%, sedangkan jika sudah ada gejala pada ibu kemungkinan mencapai 50%.penularan juga terjadi selama proses persalinan melalui transfusi fetomaternal atau kontak antara kulit atau membran mucosa bayi dengan darah atau sekresi maternal saat melahirkan . semakin lama proses kelahiran, semakin besar pula risiko penularan, sehingga lama persalinanbisa dicegah dengan operasi sectio caecaria. Transmisi lain juga terjadi selama periode postpartum melalui ASI, risiko bayi tertular melaui ASI dari ibu yang positif sekitar 10% (Nurs dan Kurniawan, 2013:161).
2.4  Tanda Gejala
Bayi tertular HIV dari ibu bisa saja tampak normal secara klinis selama periode neonatal. Penyakit penanda AIDS tersering yang ditemukan pada anak adalah pneumonia yang disebabkan pneumocystis cranii, gejala umum yang ditemukan pada bayi dengan infeksi HIV adalah gangguan tumbuh kembang, kandidiasis oral, diare kronis, atau hepatosplenomegali (pembesaran pada hepar dan lien). Karena antibodi ibu bisa dideteksi pada bayi sampai berumur 18 bulan..  Anak denagn HIV sering mengalami infeksi bakteri, gagal tumbuh atau wasting, limfadenopati menetap, keterlambatan berkembang, sariawan pada mulut dan faring. Anak usia lebih dari 18 bulan bisa didiagnosis dengan ELISA dan tes konfirmasi lain seperti pada dewasa. Terdapat dua klasifikasi yang bisa digunakan untuk mendiagnosis bayi dan anak dengan HIV yaitu menurut CDC dan WHO(Nurs dan Kurniawan, 2013:163).
Pada pengkajian anak HIV positif atau AIDS pada anak rata-rata dimasa perinatal sekitar usia 9 sampai 17 tahun.
Keluhan utama dapat berupa :
a.    Demam dan diare yang berkepanjangan
b.    Tachipnae
c.    Batuk
d.   Sesak nafas
e.    Hipoksia
Kemudian diikuti dengan adanya perubahan :
a.       Berat badan dan tinggi badan yang tidak naik
b.      Diare lebih dan satu bulan
c.       Demam lebih dan satu bulan
d.      Mulut dan faring dijumpai bercak putih
e.       Limfadenopati yang menyeluruh
f.       Infeksi yang berulang (otitis media, faringitis )
g.      Batuk yang menetap ( > 1 bulan )
h.      Dermatitis yang menyeluruh
2.5  Pencegahan penularan
Penularan HIV dari dari ibu ke bayi bisa dicegah melalui 4 cara, mulai saat hamil, saat melahirkan dan setelah lahir yaitu:
1.      Penggunaan antiretroviral selama kehamilan,
Pemberian antiretroviral bertujuan agar viral load rendah sehingga jumlah virus yang ada di dalam darah dan cairan tubuh kurang efektif untuk menularkan HIV
2.      penggunaan antiretroviral saat persalinan dan bayi yang baru dilahirkan,
Persalinan sebaiknya dipilih dengan metode sectio caecaria karena terbukti mengurangi resiko risiko penularan HIV dari ibu ke bayi sampai 80%.walaupun caesaria. demikian bedah caesar juga memiliki risiko penularan HIV dari ibu kebayi sampai 80%. Bila bedah caesar selektif disertai penggunaan terapi antiretroviral, maka risiko dapat ditirinkan sampai 87%. Walaupun demikian bedah caesar juga mempunyai risiko karena imunitas ibuyang rendah sehingga bisa terjadi keterlambatan penyembuhan luka, bahkan bisa terjadi kematian saat operasi oleh karena itu persalinan pervaginam dan sectio caecaria harus dipertimbangkan sesuai kondisi gizi, keuangan, dan faktor lain. Namun jika melahirkan dengan pervaginam maka beberapa tindakan harus dihindari untuk meminimalisir risiko, seperti terlalu sering melakukan pemeriksaan dalam atau memecahkan ketuban sebelum pembukaan lengkap
3.      penggunaan obstetrik selama selama persalinan,
4.      penatalksanaan selama menyusui. (Nurs dan Kurniawan, 2013:165).
2.6  Penatalaksanaan
1.      Pengobatan pada Anak dengan HIV/AIDS
Prinsip pemberian ART pada anak hampir sama dengan dewasa, tetapi pemberian ART pada anakmemerlukan perhatian khusus tentang dosisi dan toksisitasnya. Pada bayi, sistem kekebalannya mulai dibentuk dan berkembang selama beberapa tahun pertama. Efek obat pada bayi dan anak juga akan berbeda dengan orang dewasa (Nurs dan Kurniawan, 2013:168). Pedoman pengobatan HIV/AIDS pada Anak menurut (Departemen Kesehatan Indonesia: Direktotat Jendran Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan, 2008:35) yaitu Rejimen Lini pertama yang direkomendasikan adalah 2 Nucleosida Reverse Transkriptase Inhibitor (NRTI) + 1 Non Nucleosida Reverse Transkriptase Inhibitor (NNRTI):
2.      Perawatan pada Anak dengan HIV/AIDS
a.       Nutrisi pada Anak dengan HIV/AIDS
Pemberian Nutrisi pada bayi dan anakdengan HIV/AIDS tidak berbeda dengan anak yang sehat, hanya saja asupan kalori dan proteinnya perlu ditingkatkan. Selain itu perlu juga diberikan multivitamin, dan antioksidan untuk mempertahankan kekebalan tubuh dan menghambat replikasi virus HIV. sebaiknya dipilih bahan makanan yang risiko alerginya rendah dan dimasak dengan baik untuk mencegah infeksi oportunistik. Sayur dan buah-buahan juga harus dicuci dengan baik dan sebaiknya dimasak sebelum diberikan kepada anak. Pemberian (Nurs dan Kurniawan, 2013:167).

b.      Dukungan sosial spiritual pada Anak dengan HIV/AIDS
Anak yang didiagnosis HIV juga mendatangkan trauma emosi yang mendalam bagi keluarganya. Orang tua harus menghadapi masalah berat dalam perawatan anak, pemberian kasih sayang, dan sebagainya sehingga dapat mempengaruhi pertumbuhan mental anak. Orang tua memerlukan waktu untuk mengatasi masalah emosi, syok, kesedihan, penolakan, perasaan berdosa, cemas, marah, dan berbagai perasaan lain. Anak perlu diberikan dukungan terhadap kehilangan dan perubahan mencakup
(1) memberi dukungan dengan memperbolehkan pasien dan keluarga untuk membicarakan hal-hal tertentu dan mengungkapkan perasaan keluarga,
(2) membangkitkan harga diri anak serta keluarganya dengan melihat keberhasilan hidupnya atau mengenang masa lalu yang indah,
(3) menerima perasaan marah, sedih, atau emosi dan reaksi lainnya,
(4) mengajarkan pada keluarga untuk mengambil hikmah, dapat mengendalikan diri dan tidak menyalahkan diri atau orang lain (Nurs dan Kurniawan, 2013:169).
BAB 3
PENUTUP
3.1  Kesimpulan
1.      HIV/AIDS yang terjadi pada anak dapat karena penularan dari ibu saat kehamilan, ataupun saat kelahiran selain itu, HIV pada anak juga dapat terjadi akibat pelecehan seksual pada anak.
2.      Diagnosis HIV pada anak dengan pemeriksaan darah untuk mendeteksi virus HIV pada anak, dapat dilakukan 2 kali yaitu sebelum dan setelah umur 18 bulan.Salah satu pencegahan penularan HIV pada anak akibat transmisi maternal yaitu dengan sectio caesaria.
3.      Penatalaksanaan kasus HIV pada Anak, tidak hanya pengaturan ART, namun juga faktor Nutrisi harus diperhatikan mengiingat anak adalah fase pertumbuhan.
4.      Kasus HIV pada anak, menurut Kajian dalam Islam dapat dikategorikan sebuah takdir dari penipta, sehingga perlu kesabaran.
3.2  Saran
Transmisi penularan HIV pada anak disominasi akibat penularan dari ibu ke anak, sehingga untuk memutuskan mata rantai HIV pada anak, peranan berbagai tim kesehatan sangat mengingat anak sebagai generasi lanjutan yang sangat diperlukan untuk berlangsungnya proses regenerasi, sehingga tim kesehatan terkhususnya, harus memberikan perhatian khusus pada kasus tersebut. Salah satu upaya nyata adalah memberikan edukasi kepada masyarakat luas, terutama ibu hamil agar malakukan pemeriksaan deteksi HIV. Dan mengkonsumsi ART apabila positif HIV. Serta Sectio Caesaria saat partus.









DAFTAR PUSTAKA

Hasdianah, dkk. Imunologi Diagnosis dan Tekhnik Biologi Molekuler. Yokyakarta: Nuha Medika, 2014.
Huriati. 2014. HIV/AIDS Pada Anak. Sulesana Volume 9 Nomor 2 Tahun 2014. Jl. St. Alauddin No.36 Samata, Gowa, Sulawesi Selatan
Indriyani, Dian dan Asmuji. Buku Ajar Keperawatan Maternitas: Upaya Promotif dan Preventif dalam menurunkan angka kematian Ibu dan Anak. Yokyakarta: Ar-Ruzz Media,2014.
Nurs, Nursalam, M. Dan Ninuk Dian Kurniawati. Asuhan Keperawatan pada Pasien terinfeksi HIV/AIDS. Jakarta: Salemba Medika, 2007.