BAB
1
PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang
Kehamilan merupakan peristiwa alami
yang terjadi pada wanita, namun kehamilan dapat mempengaruhi kondisi kesehatan
ibu dan janin terutama pada kehamilan trimester pertama. Wanita hamil trimester
pertama pada umumnya mengalami mual, muntah, nafsu makan berkurang dan
kelelahan. Menurunnya kondisi wanita hamil cenderung memperberat kondisi klinis
wanita dengan penyakit infeksi antara lain infeksi HIV-AIDS. Penyakit AIDS
(Acquired Immunodeficiency Syndrome) merupakan suatu syndrome/kumpulan gejala
penyakit yang disebabkan oleh Retrovirus yang menyerang sistem kekebalan atau
pertahanan tubuh. Dengan rusaknya sistem kekebalan tubuh, maka orang yang
terinfeksi mudah diserang penyakit-penyakit lain yang berakibat fatal, yang
dikenal dengan infeksi oportunistik.
Jumlah penderita penyakit HIV/AIDS
(Human Immunodeficiency Virus/ Acquaired Immune Deficiency Syndrome) di dunia
maupun di Indonesia, baik pada orang dewasa maupun anak semakin meningkat
jumlahnya setiap tahun. Diduga jumlah kasus HIV/AIDS ini menyerupai fenomena
gunung es, yaitu kasus yang diketahui hanya sekitar 1/10 dari jumlah kasus yang
sebenarnya . Penyakit HIV/AIDS merupakan salah satu penyakit pembunuh terbesar
di dunia. Hal ini karena pada Januari 2006, UNAIDS dan WHO memperkirakan bahwa
AIDS telah menyebabkan kematian lebih dari 25 juta orang sejak pertama kali
diakui pada tanggal 5 Juni 1981. Sejak HIV menjadi pandemi di dunia,
diperkirakan 5,1 juta anak di dunia terinfeksi HIV. Setiap tahun sekitar 400.000
bayi dilahirkan terinfeksi HIV akibat penularan dari ibu ke anak (penularan
vertical). Di Indonesia, hingga Maret 2011, jumlah anak penderita HIV/AIDS
mencapai 1.119 orang, dengan jumlah penderita dibawah lima tahun dilaporkan
mencapai 514 anak. Dilaporkan juga sebanyak 34 anak usia bawah lima tahun
(balita) di propinsi Papua positif mengidap infeksi HIV.
Komisi Penanggulangan AIDS Nasional
menyatakan bahwa saat ini jumlah ibu rumah tangga yang terinfeksi HIV di
Indonesia terus meningkat setiap tahunnya, sementara jumlah pekerja seks
komersil yang terinfeksi HIV terus menurun. Hal ini diduga disebabkan oleh
penularan HIV dari suami atau pasangan intim yang memiliki perilaku beresiko.
Keadaan ini dapat meningkatkan resiko penularan dari ibu ke anak. Dengan
demikian permasalahan HIV harus segera ditangani dengan baik. Bila tidak
ditangani, epidemi HIV akan merambat masuk ke dalam keluarga dan masyarakat
umum.
Perkembangan dan percobaan klinis
terhadap kemampuan obat antiretrovirus yang sering dikenal dengan highly
active antiretroviral therapy (HAART) untuk menghambat HIV terus
dilakukan selama 15 tahun terakhir ini. Pengobatan diharapkan mampu menghambat
progresivitas infeksi HIV untuk menjadi AIDS dan penularannya terhadap orang
lain serta janin pada wanita hamil. Pengobatan dengan menggunakan HAART yang
aman saat ini pada wanita hamil adalah dengan menggunakan AZT (azidotimidin)
atau ZDV (zidovudin). Wanita hamil dengan viral load < 50 kopi/mL
saat pemberian HAART pada usia kehamilan 36 minggu dianjurkan melahirkan
pervaginam. Sedangkan Wanita hamil dengan HIV positif, tetapi tidak mendapat
pengobatan HAART selama kehamilannya, seksio sesaria merupakan pilihan untuk
mengurangi transmisi MTCT.
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa saja pengkajian pada ibu hamil yang
menderita HIV/AIDS ?
2. Apa saja pemeriksaan fisik
pada ibu hamil yang menderita HIV/AIDS ?
3. Bagaimana tanda dan gejala pada ibu hamil yang menderita HIV/AIDS ?
4. Bagaimana penatalaksanaan pada ibu hamil yang
menderita HIV/AIDS ?
1.3 Tujuan
1. Mengetahui pengkajian pada ibu hamil yang
menderita HIV/AIDS.
2. Mengetahui pemeriksaan fisik pada ibu hamil yang
menderita HIV/AIDS.
3. Mengetahui tanda dan gejala pada ibu hamil yang menderita HIV/AIDS.
4. Mengetahui penatalaksanaan pada ibu hamil yang
menderita HIV/AIDS.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pengkajian HIV
2.1.1 Respon Biologis
HIV terdapat pada cairan mani dan
sekret vagina yang akan ditularkan virus ke sel, baik pada pasangan homoseksual
atau heteroseksual. Kerusakan pada mukosa genitalia akibat penyakit menular
seksual seperti sifilis dan chancroid akan memudahkan terjadinya infeksi HIV. Cara penularan virus HIV/AIDS melalui
transmisi seksual melalui mukosa genital. Keberhasilan transmisi virus itu
sendiri sangat bergantung pada viral load individu yang terinfeksi. Viral load ialah perkiraan jumlah
copy RNA per
mililiter serum atau plasma penderita. Apabila virus ditularkan pada inang yang
belum terinfeksi, maka akan terjadi viremia transien dengan kadar yang tinggi,
virus menyebar luas dalam tubuh inang.
Sementara sel yang akan terinfeksi
untuk pertama kalinya tergantung pada bagian mana yang terlebih dahulu dikenai oleh
virus, bisa CD4 sel T dan manosit di dalam darah atau CD4 sel T dan makrofag
pada jaringan mukosa. Ketika HIV mencapai permukaan mukosa, maka ia akan
menempel pada limfosit-T CD4 atau makrofag (atau sel dendrit pada kulit).
Setelah virus ditransmisikan secara seksual melewati mukosa genital, ditemukan
bahwa target selular pertama virus adalah sel dendrit jaringan (dikenal juga
sebagai sel Langerhans) yang terdapat pada epitel servikovaginal, dan
selanjutnya akan bergerak dan bereplikasi di kelenjar getah bening setempat.
Sel dendritik ini kemudian berfusi dengan limfosit CD4 yang akan bermigrasi
kedalam nodus limfatikus melalui jaringan limfatik sekitarnya. Dalam jangka
waktu beberapa hari sejak virus ini mencapai nodus limfatikus regional, maka
virus akan menyebar secara hematogen dan tinggal pada berbagai kompartemen
jaringan. Nodulus limfatikus maupun ekuivalennya (seperti plak Peyeri pada
usus) pada akhirnya akan mengandung virus.
2.1.2 Respon
Psikologis
a. Senang
Senang ketika mengetahui kehamilannya. Perasaan
senang tersebut tentunya berhubungan dengan mekanisme koping dan dukungan
sosial. Berdasarkan penelitian Kotze, et al.di Afrika Selatan pada tahun 2012
bahwa kemampuan mekanisme koping yang aktif dan dukungan sosial yang positif dapat
meningkatkan harga diri dan dapat menurunkan tingkat depresi dan memunculkan
respon emosi dan fisik yang baik selama kehamilan.
b. Sedih
Hal ini sesuai dengan penelitian Kotze, et al. pada
tahun 2012, sebagian besar ibu hamil dengan HIV mengalami peningkatan depresi
di awal kehamilannya dan menurun seiring dengan mekanisme koping dari individu.
Mekanisme koping individu tersebut dihubungkan dengan tingkat pengetahuan,
dukungan keluarga, dan dukungan sosial.
c. Cemas Hasil
Haroen, Juniarti, dan Windari (2008) yang
menyebutkan bahwa wanita dengan HIV mengalami perasaan cemas apabila menularkan
kepada keluarga dan anaknya. Respon emosi ini tentunya dipengaruhi pengetahuan
responden tentang HIV.
2.1.3 Pengkajian Sosial
Pada bumil yang terinfeksi virus HIV/AIDS biasanya merasa
takut kehilangan kerabat/orang terdekat, rasa
takut untuk mengungkapkan pada orang lain, takut akan penolakan/kehilangan
pendapatan, isolasi, kesepian, mempertanyakan kemampuan untuk tetap mandiri,
tidak mampu membuat rencana. perubahan pada interaksi keluarga/orang terdekat,
aktivitas yang tidak terorganisasi, dan
perubahan penyusunan tujuan.
2.1.4 Pengkajian Kultural
Riwayat perilaku berisiko tinggi yaitu hubungan
seksual dengan pasangan positif HIV, pasangan seksual multipel, aktivitas
seksual yang tidak terlindung, dan seks anal. Menurunnya libido, terlalu sakit
untuk melakukan hubungan seksual, dan penggunaan kondom yang tidak konsisten.
Menggunakan pil KB yang meningkatkan kerentanan terhadap virus pada wanita yang
diperkirakan dapat terpajan karena peningkatan kekeringan vagina. kehamilan
atau resiko terhadap hamil, pada genetalia manifestasi kulit (herpes, kutil),
dan rabas.
2.1.5 Pengkajian Spiritual
Respons Adaptif Spiritual
dikembangkan dari konsep Ronaldson (2000) dan Kauman & Nipan (2003) meliputi :
1. Menguatkan
harapan yang realistis kepada pasien terhadap kesembuhan
2. Pandai mengambil hikmah
3. Ketabahan hati
2.2 Pemeriksaan Fisik
Antenatal care
wanita hamil dengan HIV :
1.
Pengukuran kadar plasma dan CD4 limfosit T harus
diulang 4-6 kali setiap bulan selama kehamilannya dan dianjurkan terapi
antivirus serta dibutuhkan terapi profilaksis untuk Pneumocystis carinii
pneumonia (PCP). Profilaksis PCP biasanya diberikan bila kadar CD4 limfosit T
di bawah 200 sel/ìL dalam bentuk kotrimoksazol (sulfametoksazol 800 mg dan
trimetoprin 160 mg) sekali sehari.
2.
Wanita yang sedang pengobatan HAART harus dilakukan
monitoring terhadap intoksikasi obat seperti jumlah sel darah, ureum, elektrolit, fungsi
hepar, laktat, dan gula darah. Adanya gejala dan tanda preeklamsi,
kolelitiasis, atau gangguan fungsi hati selama kehamilan menandakan adanya
intoksikasi obat.
3.
Ultrasonografi (USG) mendetail tentang adanya
anomali janin sangat penting dilakukan terutama wanita hamil yang telah terpapar
obat HAART dan antagonis folat yang digunakan untuk profilaksis PCP. Monitoring
janin intensif termasuk adanya gangguan anatomi, gangguan pertumbuhan, dan
fetal well being pada saat trisemester III diharuskan pada ibu hamil yang
mendapat obat kombinasi HAART untuk melihat efek obat pada janin.
2.3 Tanda
dan Gejala
Infeksi
HIV meningkatkan insidensi gangguan pertumbuhan janin dan persalinan prematur
pada wanita dengan penurunan kadar CD4 dan penyakit yang lanjut. Tidak
ditemukan hubungan kelainan kongenital dengan infeksi HIV.
Manifestasi klinis yang tampak dibagi menjadi 2, yaitu :
1. Manifestasi Klinis Mayor
a. Demam berkepanjangan lebih
dari 3 bulan.
b. Diare kronis lebih dari satu
bulan berulang maupun terus-menerus.
c. Kehilangan napsu makan.
d. Penurunan berat badan lebih
dari 10% dalam 3 tiga bulan.
e. Berkeringat.
2. Manifestasi Klinis Minor
a. Batuk kronis
b. Infeksi pada mulut dan jamur disebabkan karena jamur
Candida Albicans
c. Pembengkakan kelenjar getah
bening yang menetap di seluruh tubuh
d. Munculnya Herpes zoster
berulang dan bercak-bercak gatal di seluruh tubuh.
2.4 Penatalaksanaan
Perkembangan dan percobaan klinis
terhadap kemampuan obat antiretrovirus yang sering dikenal dengan highly active
antiretroviral therapy (HAART) untuk menghambat HIV terus dilakukan selama 15
tahun terakhir ini. Pengobatan diharapkan mampu menghambat progresivitas
infeksi HIV untuk menjadi AIDS dan penularannya terhadap orang lain serta janin
pada wanita hamil. HAART
bisa memperbaiki fungsi imunitas tetapi tidak dapat kembali normal. Pengobatan
dengan menggunakan HAART yang aman saat ini pada wanita hamil adalah dengan
menggunakan AZT (azidotimidin)
atau ZDV (zidovudin). Pengobatan wanita hamil dengan menggunakan regimen AZT
ini dibagi atas tiga bagian yaitu wanita hamil dengan HIV positif, pengobatan
dengan menggunakan AZT harus dimulai pada usia kehamilan 14-34 minggu dengan
dosis 100 mg, 5 kali sehari, atau 200 mg 3 kali sehari, atau 300 mg 2 kali
sehari, pada saat persalinan. AZT
diberikan secara intravena, dosis inisial 2 mg/kgBB dalam 1 jam dan dilanjutkan
1 mg/kgBB/jam sampai partus, terhadap bayi diberikan AZT dengan dosis 2 mg/kgBB
secara oral atau 1,5 mg/kgBB secara intravena tiap 6 jam sampai usianya 4
minggu.
Jenis Persalinan Wanita hamil
dengan viral load < 50 kopi/mL saat pemberian HAART pada usia kehamilan 36
minggu dianjurkan melahirkan pervaginam. Keadaan ini tidak dianjurkan pada
riwayat operasi dinding rahim, adanya kontraindikasi melahirkan pervaginam,
infeksi genitalia berulang, dan diprediksi persalinannya akan berlangsung lama.
Wanita hamil dengan HIV positif, tetapi tidak mendapat pengobatan HAART selama
kehamilannya, seksio sesaria merupakan pilihan untuk mengurangi transmisi MTCT.
Penatalaksanaan Saat Persalinan Persalinan pervaginam Wanita hamil yang
direncanakan persalinan pervaginam, diusahakan selaput amnionnya utuh selama
mungkin. Pemakaian eleklroda fetal scalp dan pengambilan sampel darah janin
harus dihindari. Jika sebelumnya telah diberikan obat HAART, maka obat ini
harus dilanjutkan sampai partus. Jika direncanakan pemberian infus zidovudin,
harus diberikan pada saat persalinan dan dilanjutkan sampai tali pusat diklem.
Dosis zidovudin adalah dosis inisial 2 mg/kgBB dalam 1 jam dan dilanjutkan 1
mg/kgBB/jam sampai partus. Tablet nevirapin dosis tunggal 200 mg harus
diberikan di awal persalinan. Tali pusat harus diklem secepat mungkin dan bayi
harus dimandikan segera. Seksio sesaria emergensi biasanya dilakukan karena
alasan obstetrik, menghindari partus 3 lama, dan ketuban pecah lama. Seksio
Sesaria Pada saat direncanakan seksio sesaria secara elektif, harus diberikan
antibiotik profilaksis. Infus zidovudin harus dimulai 4 jam sebelum seksio
sesaria dan dilanjutkan sampai tali pusat diklem. Sampel darah ibu diambil saat
itu dan diperiksa viral load-nya. Tali pusat harus diklem secepat mungkin pada
saat seksio sesaria dan 3 bayi harus dimandikan segera.
Pemberian makanan bayi apabila ibu memilih
memberikan ASI, maka dianjurkan memberikan ASI secara eksklusif selama 6 bulan.
Apabila tidak dapat memberikan ASI eksklusif, maka dianjurkan untuk segera
beralih ke pemberian susu formula. Apabila syarat AFASS (acceptable, feasible,
affordable, sustainable, safe) tercapai sebelum usia 6 bulan, maka ibu boleh
beralih ke pemberian susu formula dan pemberian ASI dihentikan.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
HIV ( Human immunodeficiency Virus ) adalah virus
pada manusia yang menyerang sistem kekebalan tubuh manusia yang dalam jangka
waktu yang relatif lama dapat menyebabkan AIDS. Cara penularan HIV/AIDS
melakukan seks dengan penderita, melalui darah yang terinfeksi, dengan
mengunakan bersama jarum untuk menyuntik obat bius dengan seseorang yang telah
terinfeksi, wanita hamil. Penularan secara perinatal terjadi terutama pada saat
proses melahirkan, karena pada saat itu terjadi kontak secara lansung antara
darah ibu dengan bayi sehingga virus dari ibu dapat menular pada bayi. Kelompok
resiko tinggi yaitu lelaki homoseksual atau biseks, orang yang ketagian obat
intravena, partner seks dari penderita AIDS, penerima darah atau produk darah
(transfusi), bayi dari ibu/bapak terinfeksi.
Gejala mayor infeksi HIV adalah BB menurun lebih
dari 10% dalam 1 bulan, diare kronik yang berlangsung lebih dari 1 bulan, penurunan
kesadaran dan adanya gangguan neurologis, demensia / HIV ensefalopati. Gejala
minor yaitu batuk menetap lebih dari 1 bulan, dermatitis generalist, adanya
herpes zoster yang berulang, kandidiasis orofaringeal, herpes simplex kronik
progresif, limfadenopati generalist, infeksi jamur berulang pada kelamin
wanita, retinitis cytomegalovirus.
3.2 Saran
Diharapkan
nantinya akan memberikan manfaat bagi para pembaca terutama pemahaman yang
berhubungan dengan bagaimana melakukan sebuah proses asuhan keperawatan
maternitas terutama pada ibu hamil yang juga menderita HIV. Pada ibu hamil yang terinfeksi virus
HIV/AIDS sebaiknya melahirkan anaknya melalui operasi SC, agar virus tidak
menularkan ke anaknya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar