Kamis, 27 September 2018

Pengkajian pada Ibu Hamil yang Menderita HIV/AIDS


                                                                      BAB 1
PENDAHULUAN

1.1   Latar Belakang
Kehamilan merupakan peristiwa alami yang terjadi pada wanita, namun kehamilan dapat mempengaruhi kondisi kesehatan ibu dan janin terutama pada kehamilan trimester pertama. Wanita hamil trimester pertama pada umumnya mengalami mual, muntah, nafsu makan berkurang dan kelelahan. Menurunnya kondisi wanita hamil cenderung memperberat kondisi klinis wanita dengan penyakit infeksi antara lain infeksi HIV-AIDS. Penyakit AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome) merupakan suatu syndrome/kumpulan gejala penyakit yang disebabkan oleh Retrovirus yang menyerang sistem kekebalan atau pertahanan tubuh. Dengan rusaknya sistem kekebalan tubuh, maka orang yang terinfeksi mudah diserang penyakit-penyakit lain yang berakibat fatal, yang dikenal dengan infeksi oportunistik.
Jumlah penderita penyakit HIV/AIDS (Human Immunodeficiency Virus/ Acquaired Immune Deficiency Syndrome) di dunia maupun di Indonesia, baik pada orang dewasa maupun anak semakin meningkat jumlahnya setiap tahun. Diduga jumlah kasus HIV/AIDS ini menyerupai fenomena gunung es, yaitu kasus yang diketahui hanya sekitar 1/10 dari jumlah kasus yang sebenarnya . Penyakit HIV/AIDS merupakan salah satu penyakit pembunuh terbesar di dunia. Hal ini karena pada Januari 2006, UNAIDS dan WHO memperkirakan bahwa AIDS telah menyebabkan kematian lebih dari 25 juta orang sejak pertama kali diakui pada tanggal 5 Juni 1981. Sejak HIV menjadi pandemi di dunia, diperkirakan 5,1 juta anak di dunia terinfeksi HIV. Setiap tahun sekitar 400.000 bayi dilahirkan terinfeksi HIV akibat penularan dari ibu ke anak (penularan vertical). Di Indonesia, hingga Maret 2011, jumlah anak penderita HIV/AIDS mencapai 1.119 orang, dengan jumlah penderita dibawah lima tahun dilaporkan mencapai 514 anak. Dilaporkan juga sebanyak 34 anak usia bawah lima tahun (balita) di propinsi Papua positif mengidap infeksi HIV.
Komisi Penanggulangan AIDS Nasional menyatakan bahwa saat ini jumlah ibu rumah tangga yang terinfeksi HIV di Indonesia terus meningkat setiap tahunnya, sementara jumlah pekerja seks komersil yang terinfeksi HIV terus menurun. Hal ini diduga disebabkan oleh penularan HIV dari suami atau pasangan intim yang memiliki perilaku beresiko. Keadaan ini dapat meningkatkan resiko penularan dari ibu ke anak. Dengan demikian permasalahan HIV harus segera ditangani dengan baik. Bila tidak ditangani, epidemi HIV akan merambat masuk ke dalam keluarga dan masyarakat umum.
Perkembangan dan percobaan klinis terhadap kemampuan obat antiretrovirus yang sering dikenal dengan highly active antiretroviral therapy (HAART) untuk menghambat HIV terus dilakukan selama 15 tahun terakhir ini. Pengobatan diharapkan mampu menghambat progresivitas infeksi HIV untuk menjadi AIDS dan penularannya terhadap orang lain serta janin pada wanita hamil. Pengobatan dengan menggunakan HAART yang aman saat ini pada wanita hamil adalah dengan menggunakan AZT (azidotimidin) atau ZDV (zidovudin). Wanita hamil dengan viral load < 50 kopi/mL saat pemberian HAART pada usia kehamilan 36 minggu dianjurkan melahirkan pervaginam. Sedangkan Wanita hamil dengan HIV positif, tetapi tidak mendapat pengobatan HAART selama kehamilannya, seksio sesaria merupakan pilihan untuk mengurangi transmisi MTCT.

1.2   Rumusan Masalah
1. Apa saja pengkajian pada ibu hamil yang menderita HIV/AIDS ?
2. Apa saja pemeriksaan fisik pada ibu hamil yang menderita HIV/AIDS ?
3. Bagaimana tanda dan gejala pada ibu hamil yang menderita HIV/AIDS ?
4. Bagaimana penatalaksanaan pada ibu hamil yang menderita HIV/AIDS ?

1.3   Tujuan
1. Mengetahui pengkajian pada ibu hamil yang menderita HIV/AIDS.
2. Mengetahui pemeriksaan fisik pada ibu hamil yang menderita HIV/AIDS.
3. Mengetahui tanda dan gejala pada ibu hamil yang menderita HIV/AIDS.
4. Mengetahui penatalaksanaan pada ibu hamil yang menderita HIV/AIDS.









BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1   Pengkajian HIV
2.1.1 Respon Biologis
HIV terdapat pada cairan mani dan sekret vagina yang akan ditularkan virus ke sel, baik pada pasangan homoseksual atau heteroseksual. Kerusakan pada mukosa genitalia akibat penyakit menular seksual seperti sifilis dan chancroid akan memudahkan terjadinya infeksi HIV. Cara penularan virus HIV/AIDS melalui transmisi seksual melalui mukosa genital. Keberhasilan transmisi virus itu sendiri sangat bergantung pada viral load individu yang terinfeksi. Viral load ialah perkiraan jumlah copy RNA per mililiter serum atau plasma penderita. Apabila virus ditularkan pada inang yang belum terinfeksi, maka akan terjadi viremia transien dengan kadar yang tinggi, virus menyebar luas dalam tubuh inang.
Sementara sel yang akan terinfeksi untuk pertama kalinya tergantung pada bagian mana yang terlebih dahulu dikenai oleh virus, bisa CD4 sel T dan manosit di dalam darah atau CD4 sel T dan makrofag pada jaringan mukosa. Ketika HIV mencapai permukaan mukosa, maka ia akan menempel pada limfosit-T CD4 atau makrofag (atau sel dendrit pada kulit). Setelah virus ditransmisikan secara seksual melewati mukosa genital, ditemukan bahwa target selular pertama virus adalah sel dendrit jaringan (dikenal juga sebagai sel Langerhans) yang terdapat pada epitel servikovaginal, dan selanjutnya akan bergerak dan bereplikasi di kelenjar getah bening setempat. Sel dendritik ini kemudian berfusi dengan limfosit CD4 yang akan bermigrasi kedalam nodus limfatikus melalui jaringan limfatik sekitarnya. Dalam jangka waktu beberapa hari sejak virus ini mencapai nodus limfatikus regional, maka virus akan menyebar secara hematogen dan tinggal pada berbagai kompartemen jaringan. Nodulus limfatikus maupun ekuivalennya (seperti plak Peyeri pada usus) pada akhirnya akan mengandung virus.
2.1.2 Respon Psikologis
a. Senang
Senang ketika mengetahui kehamilannya. Perasaan senang tersebut tentunya berhubungan dengan mekanisme koping dan dukungan sosial. Berdasarkan penelitian Kotze, et al.di Afrika Selatan pada tahun 2012 bahwa kemampuan mekanisme koping yang aktif dan dukungan sosial yang positif dapat meningkatkan harga diri dan dapat menurunkan tingkat depresi dan memunculkan respon emosi dan fisik yang baik selama kehamilan.
b. Sedih
Hal ini sesuai dengan penelitian Kotze, et al. pada tahun 2012, sebagian besar ibu hamil dengan HIV mengalami peningkatan depresi di awal kehamilannya dan menurun seiring dengan mekanisme koping dari individu. Mekanisme koping individu tersebut dihubungkan dengan tingkat pengetahuan, dukungan keluarga, dan dukungan sosial.
c. Cemas Hasil
Haroen, Juniarti, dan Windari (2008) yang menyebutkan bahwa wanita dengan HIV mengalami perasaan cemas apabila menularkan kepada keluarga dan anaknya. Respon emosi ini tentunya dipengaruhi pengetahuan responden tentang HIV.
2.1.3 Pengkajian Sosial
Pada bumil yang terinfeksi virus HIV/AIDS biasanya merasa takut kehilangan kerabat/orang terdekat, rasa takut untuk mengungkapkan pada orang lain, takut akan penolakan/kehilangan pendapatan, isolasi, kesepian, mempertanyakan kemampuan untuk tetap mandiri, tidak mampu membuat rencana. perubahan pada interaksi keluarga/orang terdekat, aktivitas yang tidak terorganisasi, dan perubahan penyusunan tujuan.
2.1.4 Pengkajian Kultural
Riwayat perilaku berisiko tinggi yaitu hubungan seksual dengan pasangan positif HIV, pasangan seksual multipel, aktivitas seksual yang tidak terlindung, dan seks anal. Menurunnya libido, terlalu sakit untuk melakukan hubungan seksual, dan penggunaan kondom yang tidak konsisten. Menggunakan pil KB yang meningkatkan kerentanan terhadap virus pada wanita yang diperkirakan dapat terpajan karena peningkatan kekeringan vagina. kehamilan atau resiko terhadap hamil, pada genetalia manifestasi kulit (herpes, kutil), dan rabas.
2.1.5 Pengkajian Spiritual
Respons Adaptif Spiritual dikembangkan dari konsep Ronaldson (2000) dan Kauman & Nipan (2003) meliputi :
1. Menguatkan harapan yang realistis kepada pasien terhadap kesembuhan
2. Pandai mengambil hikmah
3. Ketabahan hati

2.2   Pemeriksaan Fisik
Antenatal care wanita hamil dengan HIV :
1. Pengukuran kadar plasma dan CD4 limfosit T harus diulang 4-6 kali setiap bulan selama kehamilannya dan dianjurkan terapi antivirus serta dibutuhkan terapi profilaksis untuk Pneumocystis carinii pneumonia (PCP). Profilaksis PCP biasanya diberikan bila kadar CD4 limfosit T di bawah 200 sel/ìL dalam bentuk kotrimoksazol (sulfametoksazol 800 mg dan trimetoprin 160 mg) sekali sehari.
2. Wanita yang sedang pengobatan HAART harus dilakukan monitoring terhadap intoksikasi obat seperti jumlah sel darah, ureum, elektrolit, fungsi hepar, laktat, dan gula darah. Adanya gejala dan tanda preeklamsi, kolelitiasis, atau gangguan fungsi hati selama kehamilan menandakan adanya intoksikasi obat.
3. Ultrasonografi (USG) mendetail tentang adanya anomali janin sangat penting dilakukan terutama wanita hamil yang telah terpapar obat HAART dan antagonis folat yang digunakan untuk profilaksis PCP. Monitoring janin intensif termasuk adanya gangguan anatomi, gangguan pertumbuhan, dan fetal well being pada saat trisemester III diharuskan pada ibu hamil yang mendapat obat kombinasi HAART untuk melihat efek obat pada janin.

2.3   Tanda dan Gejala
          Infeksi HIV meningkatkan insidensi gangguan pertumbuhan janin dan persalinan prematur pada wanita dengan penurunan kadar CD4 dan penyakit yang lanjut. Tidak ditemukan hubungan kelainan kongenital dengan infeksi HIV.
Manifestasi klinis yang tampak dibagi menjadi 2, yaitu :
1. Manifestasi Klinis Mayor
a. Demam berkepanjangan lebih dari 3 bulan.
b. Diare kronis lebih dari satu bulan berulang maupun terus-menerus.
c. Kehilangan napsu makan.
d. Penurunan berat badan lebih dari 10% dalam 3 tiga bulan.
e. Berkeringat.
2. Manifestasi Klinis Minor
a. Batuk kronis
b. Infeksi pada mulut dan jamur disebabkan karena jamur Candida Albicans
c. Pembengkakan kelenjar getah bening yang menetap di seluruh tubuh
d. Munculnya Herpes zoster berulang dan bercak-bercak gatal di seluruh tubuh.
2.4   Penatalaksanaan
Perkembangan dan percobaan klinis terhadap kemampuan obat antiretrovirus yang sering dikenal dengan highly active antiretroviral therapy (HAART) untuk menghambat HIV terus dilakukan selama 15 tahun terakhir ini. Pengobatan diharapkan mampu menghambat progresivitas infeksi HIV untuk menjadi AIDS dan penularannya terhadap orang lain serta janin pada wanita hamil. HAART bisa memperbaiki fungsi imunitas tetapi tidak dapat kembali normal. Pengobatan dengan menggunakan HAART yang aman saat ini pada wanita hamil adalah dengan menggunakan AZT (azidotimidin) atau ZDV (zidovudin). Pengobatan wanita hamil dengan menggunakan regimen AZT ini dibagi atas tiga bagian yaitu wanita hamil dengan HIV positif, pengobatan dengan menggunakan AZT harus dimulai pada usia kehamilan 14-34 minggu dengan dosis 100 mg, 5 kali sehari, atau 200 mg 3 kali sehari, atau 300 mg 2 kali sehari, pada saat persalinan. AZT diberikan secara intravena, dosis inisial 2 mg/kgBB dalam 1 jam dan dilanjutkan 1 mg/kgBB/jam sampai partus, terhadap bayi diberikan AZT dengan dosis 2 mg/kgBB secara oral atau 1,5 mg/kgBB secara intravena tiap 6 jam sampai usianya 4 minggu.
Jenis Persalinan Wanita hamil dengan viral load < 50 kopi/mL saat pemberian HAART pada usia kehamilan 36 minggu dianjurkan melahirkan pervaginam. Keadaan ini tidak dianjurkan pada riwayat operasi dinding rahim, adanya kontraindikasi melahirkan pervaginam, infeksi genitalia berulang, dan diprediksi persalinannya akan berlangsung lama. Wanita hamil dengan HIV positif, tetapi tidak mendapat pengobatan HAART selama kehamilannya, seksio sesaria merupakan pilihan untuk mengurangi transmisi MTCT. Penatalaksanaan Saat Persalinan Persalinan pervaginam Wanita hamil yang direncanakan persalinan pervaginam, diusahakan selaput amnionnya utuh selama mungkin. Pemakaian eleklroda fetal scalp dan pengambilan sampel darah janin harus dihindari. Jika sebelumnya telah diberikan obat HAART, maka obat ini harus dilanjutkan sampai partus. Jika direncanakan pemberian infus zidovudin, harus diberikan pada saat persalinan dan dilanjutkan sampai tali pusat diklem. Dosis zidovudin adalah dosis inisial 2 mg/kgBB dalam 1 jam dan dilanjutkan 1 mg/kgBB/jam sampai partus. Tablet nevirapin dosis tunggal 200 mg harus diberikan di awal persalinan. Tali pusat harus diklem secepat mungkin dan bayi harus dimandikan segera. Seksio sesaria emergensi biasanya dilakukan karena alasan obstetrik, menghindari partus 3 lama, dan ketuban pecah lama. Seksio Sesaria Pada saat direncanakan seksio sesaria secara elektif, harus diberikan antibiotik profilaksis. Infus zidovudin harus dimulai 4 jam sebelum seksio sesaria dan dilanjutkan sampai tali pusat diklem. Sampel darah ibu diambil saat itu dan diperiksa viral load-nya. Tali pusat harus diklem secepat mungkin pada saat seksio sesaria dan 3 bayi harus dimandikan segera.
Pemberian makanan bayi apabila ibu memilih memberikan ASI, maka dianjurkan memberikan ASI secara eksklusif selama 6 bulan. Apabila tidak dapat memberikan ASI eksklusif, maka dianjurkan untuk segera beralih ke pemberian susu formula. Apabila syarat AFASS (acceptable, feasible, affordable, sustainable, safe) tercapai sebelum usia 6 bulan, maka ibu boleh beralih ke pemberian susu formula dan pemberian ASI dihentikan.

























BAB III
PENUTUP

3.1   Kesimpulan
HIV ( Human immunodeficiency Virus ) adalah virus pada manusia yang menyerang sistem kekebalan tubuh manusia yang dalam jangka waktu yang relatif lama dapat menyebabkan AIDS. Cara penularan HIV/AIDS melakukan seks dengan penderita, melalui darah yang terinfeksi, dengan mengunakan bersama jarum untuk menyuntik obat bius dengan seseorang yang telah terinfeksi, wanita hamil. Penularan secara perinatal terjadi terutama pada saat proses melahirkan, karena pada saat itu terjadi kontak secara lansung antara darah ibu dengan bayi sehingga virus dari ibu dapat menular pada bayi. Kelompok resiko tinggi yaitu lelaki homoseksual atau biseks, orang yang ketagian obat intravena, partner seks dari penderita AIDS, penerima darah atau produk darah (transfusi), bayi dari ibu/bapak terinfeksi.
Gejala mayor infeksi HIV adalah BB menurun lebih dari 10% dalam 1 bulan, diare kronik yang berlangsung lebih dari 1 bulan, penurunan kesadaran dan adanya gangguan neurologis, demensia / HIV ensefalopati. Gejala minor yaitu batuk menetap lebih dari 1 bulan, dermatitis generalist, adanya herpes zoster yang berulang, kandidiasis orofaringeal, herpes simplex kronik progresif, limfadenopati generalist, infeksi jamur berulang pada kelamin wanita, retinitis cytomegalovirus.

3.2   Saran
Diharapkan nantinya akan memberikan manfaat bagi para pembaca terutama pemahaman yang berhubungan dengan bagaimana melakukan sebuah proses asuhan keperawatan maternitas terutama pada ibu hamil yang juga menderita HIV. Pada ibu hamil yang terinfeksi virus HIV/AIDS sebaiknya melahirkan anaknya melalui operasi SC, agar virus tidak menularkan ke anaknya.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar