Kamis, 27 September 2018

pengkajian biologi, psikologis, sosial, spiritual, dan kultural pada penderita HIV/AIDS


BAB I
PENDAHULUAN

1.1.      Latar Belakang
Human Immunodeficiency Virus (HIV) adalah sebuah retrovirus yang menginfeksi sel-sel sistem imun, menghancurkan atau merusak fungsi dari sel-sel sistem imun. Stadium yang paling lanjut dari infeksi HIV adalah Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS) (WHO, 2013). Virus HIV ditemukan dalam cairan tubuh terutama pada darah, cairan sperma, cairan vagina, dan air susu ibu. Virus tersebut merusak kekebalan tubuh manusia dan mengakibatkan turun dan hilangnya daya tahan tubuh sehingga mudah terjangkit penyakit infeksi lainnya (Nursalam & Kurniawati, 2007). Penurunan imunitas dipengaruhi oleh beberapa faktor. Faktor yang perlu diperhatikan oleh tenaga kesehatan adalah stresor psikososial. Aspek psikososial menurut Stewart (1997) dibedakan menjadi tiga hal, antara lain: (1) stigma sosial; (2) diskriminasi terhadap orang yang terinfeksi HIV; (3) terjadinya waktu yang lama terhadap respon psikologis mulai penolakan, marah, tawar-menawar, dan depresi berakibat pada keterlambatan upaya pencegahan dan pengobatan. Lingkup terkecil dari lingkungan sosial pasien adalah keluarga. Dukungan sosial terutama dari keluarga adalah penting, dan sangat menentukan perkembangan penyakit yang dapat menurunkan kondisi kesehatan pasien, mempercepat progresivitas penyakit hingga timbul kematian.
Data dari WHO tentang jumlah orang yang terinfeksi HIV di Indonesia pada tahun 2011 berkisar 380.000 jiwa. Data ini selalu meningkat tiap lima tahunnya, yakni pada tahun 2006 tercatat sebanyak 180.000 jiwa dan pada tahun 2001 berkisar 12.000 jiwa (WHO, 2013b). Pada tahun 2013 ini, Ditjen PP & PL Kementerian Kesehatan Republik Indonesia merilis data tentang penemuan kasus baru HIV pada tahun 2012 mencapai 21.511. Data ini meningkat daripada tahun sebelumnya pada 2011 sejumlah 21.031. Jumlah penderita HIV khusus Propinsi Jawa Timur, seperti yang disampaikan oleh Dinas Kesehatan Propinsi Jawa Timur pada tahun 2011 tercatat sebanyak 2646 jiwa, terjadi peningkatan dari tahun sebelumnya sejumlah 2233 jiwa. Data hingga Juni 2012 menunjukkan bahwa Kabupaten A dan Kabupaten Tulung Agung termasuk dalam zona merah distribusi kasus AIDS di Propinsi Jawa Timur (Dinkes Provinsi Jawa Timur, 2012). Data secara nasional mengenai TKI yang positif terinfeksi HIV & AIDS belum terdokumentasi dengan baik. Namun, terdapat sumber menyatakan bahwa terjadi kewaspadaan oleh pihak Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi, dan Kependudukan (Disnakertransduk) Jawa Timur mengenai penyebaran kasus HIV & AIDS di Propinsi Jawa Timur adalah dari mantan tenaga kerja-tenaga kerja Indonesia (Depkes, 2013). Data jumlah pekerja di Jawa timur yang terjangkit HIV & AIDS sebanyak 1700-an, dengan 10% diantaranya adalah mantan Tenaga Kerja Indonesia (ANTARA, 2011).
   Individu dengan HIV & AIDS yang mendapat perawatan di rumah sakit akan mengalami kecemasan dan stres pada semua tingkat usia. Penyebab kecemasan yang dialami pasien tersebut salah satu faktor yang mempengaruhi selain dari petugas kesehatan adalah keluarga yang menunggui selama perawatan. Keluarga juga sering merasa cemas dengan perkembangan keadaan pasien, pengobatan, dan biaya perawatan. Meskipun dampak tersebut tidak secara langsung kepada pasien, tetapi secara psikologis pasien akan merasakan perubahan perilaku dari keluarga yang menungguinya selama perawatan (Marks, 1998 dalam Subowo, 1992). Pasien menjadi semakin stres dan berpengaruh terhadap proses penyembuhannya karena penurunan respon imun. Ader (1885) dalam Subowo (1992) telah membuktikan bahwa individu yang mengalami kegoncangan jiwa akan mudah terserang penyakit, karena pada kondisi stres akan terjadi penekanan sistem imun. Ada keterkaitan antara lingkungan sosial (keluarga) pasien HIV & AIDS dengan progresifitas penyakit tersebut, membuat penulis ingin mengetahui bagaimana gambaran reaksi psikologis (respon stres) pada keluarga Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang terinfeksi virus HIV. Dukungan dari lingkungan sosial (keluarga) sangat dibutuhkan pasien HIV & AIDS sehubungan dengan rasa putus asa yang dialami pasien sejak pasien tersebut dinyatakan terinfeksi virus HIV. Harapannya, dengan adanya respon emosi yang positif dari keluarga dapat mengurangi stres yang dialami pasien.
Penatalaksanaan untuk kasus HIV (human immunodeficiency virus) adalah dengan memberikan terapi antiretroviral (ARV) yang berfungsi untuk mencegah sistem imun semakin berkurang yang berisiko mempermudah timbulnya infeksi oportunistik. Hingga kini, belum terdapat penatalaksanaan yang bersifat kuratif untuk menangani infeksi HIV. Walau demikian, terdapat penatalaksanaan HIV yang diberikan seumur hidup dan bertujuan untuk mengurangi aktivitas HIV dalam tubuh  penderita sehingga memberi kesempatan bagi sistem imun, terutama CD4 untuk dapat diproduksi dalam jumlah yang normal. Pengobatan kuratif dan vaksinasi HIV masih memerlukan penelitian lebih lanjut.
1.2   Rumusan Masalah
1. Apa saja pengkajian biologi, psikologis, sosial, spiritual, dan kultural pada penderita HIV/AIDS ?
2. Bagaimana pemeriksaan fisik pada penderita HIV/AIDS ?
3. Apa tanda dan gejala pada penderita HIV/AIDS ?
4. Bagamaina penatalaksanaan pada penderita HIV/AIDS ?
1.3.      Tujuan
1. Mahasiswa mampu mengetahui pengkajian biologi, psikologis, sosial, spiritual, dan kultural pada penderita HIV/AIDS.
2. Mahasiswa mampu mengetahui cara pemeriksaan fisik pada penderita HIV/AIDS Mahasiswa mampu mengetahui peran perawat dalam mencegah WTS waria tidak terkena HIV AIDS.
3. Mahasiswa mampu mengetahui tanda dan gejala pada penderita HIV/AIDS.
4. Mahasiswa mampu mengetahui penatalaksanaan pada penderita HIV/AIDS.


















BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1   Pengkajian HIV
2.1.1 Pengkajian Biologis
Secara imunologis, sel T yang terdiri dari limfosit T-helper, disebut limfosit CD4+ akan mengalami perubahan baik secara kuantitas maupun kualitas. HIV menyerang CD4+ baik secara langsung maupun tidak langsung. Secara langsung, sampul HIV yang mempunyai efek toksik akan menghambat fungsi sel T (toxic HIV). Secara tidak langsung, lapisan luar protein HIV yang disebut sampul gp 120 dan anti p24 berinteraksi dengan CD4+ yang kemudian menghambat aktivasi sel yang mempresentasikan antigen (APC). Setelah HIV melekat melalui reseptor CD4+ dan co-reseptornya bagian sampul tersebut melakukan fusi dengan membran sel dan bagian intinya masuk ke dalam sel membran. Pada bagian inti terdapat enzim reverse transcripatase yang terdiri dari DNA polimerase dan ribonuclease. Pada inti yang mengandung RNA, dengan enzim DNA polimerase menyusun kopi DNA dari RNA tersebut. Enzim ribonuclease memusnahkan RNA asli. Enzim polimerase kemudian membentuk kopi DNA kedua dari DNA pertama yang tersusun sebagai cetakan.
Kode genetik DNA berupa untai ganda setelah terbentuk, maka akan masuk ke inti sel. Kemudian oleh enzim integrase, DNA copi dari virus disisipkan dalam DNA pasien. HIV provirus yang berada pada limfosit CD4+, kemudian bereplikasi yang menyebabkan sel limfosit CD4 mengalami sitolisis (Stewart, 1997). Virus HIV yang telah berhasil masuk dalam tubuh pasien, juga menginfeksi berbagai macam sel, terutama monosit, makrofag, sel-sel mikroglia di otak, sel – sel hobfour plasenta, sel-sel dendrit pada kelenjar limfe, sel- sel epitel pada usus, dan sel langerhans di kulit. Efek dari infeksi pada sel mikroglia di otak adalah encepalopati dan pada sel epitel usus adalah diare yang kronis (Stewart, 1997). Gejala-gejala klinis yang ditimbulkan akibat infeksi tersebut biasanya baru disadari pasien setelah beberapa waktu lamanya tidak mengalami kesembuhan. Pasien yang terinfeski virus HIV dapat tidak memperlihatkan tanda dan gejala selama bertahuntahun. Sepanjang perjalanan penyakit tersebut sel CD4+ mengalami penurunan jumlahnya dari 1000/ul sebelum terinfeksi menjadi sekitar 200 – 300/ul setelah terinfeksi 2 – 10 tahun.

2.1.2 Pengkajian Psikologis
Reaksi proses psikologis hal-hal yang biasa di jumpai.
Reaksi
Proses Psikologis
Hal-hal yag biasa dijumpai
Shock (kaget, goncangan batin)
Merasa bersalah, marah, tidak berdaya
Rasa takut, hilang akal, frustasi, rasa sedih, ssah acting out
Mengucilkan diri
Merasa cacat dan tidak berguna, menutup diri
Khawatir menginfeksi orang lain, murung
Membuka status secara terbatas
Ingin tahu reaksi orang lain, pengalihan stress, ingin dicintai
Penolakan, stress, konfrontasi
Mencari orang lain yang HIV positif
Berbagi rasa, pengenalan, keprcayaan, penguatan, dukungan sosial
Ketergantungan, campur tangan, tidak percaya pada pemegang rahasia dirinya
Status khusus
Perubahab menjadi manfaat khusus, perbedaan menjadi hal yang istimewa, dibutuhkan oleh yang lainnya.
Ketergantungan, dikotomi kita dan mereka (semua orang diliha sebagai terinfeksi HIV dan direspon seperti itu), over identification
Perilaku mementingkan orang lain
Komitme dan kesatuan kelompok, kepuasan memberi dan berbagi perasaan sebagai kelompok.
Pemadaman, reaksi dan kompensasi yang berlebihan

Respon Psikologis (penerimaan diri) terhadap Penyakit ada lima tahap reaksi emosi seseorang terhadap penyakit, yaitu :
1. Pengingkaran (denial), pada tahap pertama pasien menunjukkan karakteristik perilaku pengingkaran, mereka gagal memahami dan mengalami makna rasional dan dampak emosional dari diagnosa. Pengingkaran ini dapat disebabkan karena ketidaktahuan pasien terhadap sakitnya atau sudah mengetahuinya dan mengancam dirinya. Pengingkaran dapat dinilai dari ucapan pasien “saya di sini istirahat.” Pengingkaran dapat berlalu sesuai dengan kemungkinan memproyeksikan pada apa yang diterima sebagai alat yang berfungsi sakit, kesalahan laporan laboratorium, atau lebih mungkin perkiraan dokter dan perawat yang tidak kompeten. Pengingkaran diri yang mencolok tampak menimbulkan kecemasan, pengingkaran ini merupakan buffer untuk menerima kenyataan yang sebenarnya. Pengingkaran biasanya bersifat sementara dan segera berubah menjadi fase lain dalam menghadapi kenyataan (Achir Yani, 1999).
2. Kemarahan (anger), apabila pengingkaran tidak dapat dipertahankan lagi, maka fase pertama berubah menjadi kemarahan. Perilaku pasien secara karakteristik dihubungkan dengan marah dan rasa bersalah. Pasien akan mengalihkan kemarahan pada segala sesuatu yang ada disekitarnya. Biasanya kemarahan diarahkan pada dirinya sendiri dan timbul penyesalan. Yang menjadi sasaran utama atas kemarahan adalah perawat, semua tindakan perawat serba salah, pasien banyak menuntut, cerewet, cemberut, tidak bersahabat, kasar, menantang, tidak mau bekerja sama, sangat marah, mudah tersinggung, minta banyak perhatian dan iri hati. Jika keluarga mengunjungi maka menunjukkan sikap menolak, yang mengakibatkan keluarga segan untuk datang, hal ini akan menyebabkan bentuk keagresipan (Hudak & Gallo, 1996).
3. Sikap tawar menawar (bargaining), setelah marah-marah berlalu, pasien akan berfikir dan merasakan bahwa protesnya tidak ada artinya. Mulai timbul rasa bersalahnya dan mulai membina hubungan dengan Tuhan, meminta dan berjanji merupakan ciri yang jelas yaitu pasien menyanggupi akan menjadi lebih baik bila terjadi sesuatu yang menimpanya atau berjanji lain jika dia dapat sembuh (Achir Yani, 1999).
4. Depresi, selama fase ini pasien sedih/ berkabung mengesampingkan marah dan pertahanannya serta mulai mengatasi kehilangan secara konstruktif. Pasien mencoba perilaku baru yang konsisten dengan keterbatasan baru. Tingkat emosional adalah kesedihan, tidak berdaya, tidak ada harapan, bersalah, penyesalan yang dalam, kesepian dan waktu untuk menangis berguna pada saat ini. Perilaku fase ini termasuk mengatakan ketakutan akan masa depan, bertanya peran baru dalam keluarga intensitas depresi tergantung pada makna dan beratnya penyakit (Netty, 1999).
5. Penerimaan dan partisipasi, sesuai dengan berlalunya waktu dan pasien beradapatasi, kepedihan dari kesabatan yang menyakitkan berkurang dan bergerak menuju identifikasi sebagai seseorang yang keterbatasan karena penyakitnya dan sebagai seorang cacat. Pasien mampu bergantung pada orang lain jika perlu dan tidak membutuhkan dorongan melebihi daya tahannya atau terlalu memaksakan keterbatasan atau ketidakadekuatan (Hudak & Gallo, 1996). Proses ingatan jangka panjang yang terjadi pada keadaan stres yang kronis akan menimbulkan perubahan adaptasi dari jaringan atau sel. Adaptasi dari jaringan atau sel imun yang memiliki hormon kortisol dapat terbentuk bila dalam waktu lain menderita stres, dalam teori adaptasi dari Roy dikenal dengan mekanisme regulator

2.1.3 Pengkajian Sosial
Interaksi Sosial :
1. Gejala : masalah yang ditimbulkan oleh diagnosis,mis. Kehilangan karabat/orang terdekat, teman, pendukung.rasa takut untuk mengungkapkannya pada orang lain, takut akan penolakan/kehilangan pendapatan. Isolasi, keseian, teman dekat ataupun pasangan yang meninggal karena AIDS. Mempertanyakan kemampuan untuk tetap mandiri, tidak mampu membuat rencana.
2. Tanda : perubahan pada interaksi keluarga/ orang terdekat.aktivitas yang tak terorganisasi.

2.1.4 Pengkajian Kultural
 Faktor budaya berkaitan juga dengan fenomena yang muncul dewasa ini dimana banyak ibu rumah tangga yang “baik-baik” tertular virus HIV /AIDS dari suaminya yang sering melakukan hubungan seksual selain dengan istrinya. Hal ini disebabkan oleh budaya permisif yang sangat berat dan perempuan tidak berdaya serta tidak mempunyai bargaining position (posisi rebut tawar) terhadap suaminya serta sebagian besar perempuan tidak memiliki pengetahuan akan bahaya yang mengancamnya.
Kebijakan yang dilaksanakan oleh pemerintah untuk menanggulangi masalah HIV /AIDS Selama ini adalah melaksanakan bimbingan sosial pencegahan HIV /AIDS, pemberian konseling dan pelayanan sosial bagi penderita HIV /AIDS yang tidak mampu. Selain itu adanya pemberian pelayanan kesehatan sebagai langkah antisipatif agar kematian dapat dihindari, harapan hidup dapat ditingkatkan dan penderita HIV /AIDS dapat berperan sosial dengan baik dalam kehidupanya

2.1.5 Pengkajian Spiritual
Respons Adaptif Spiritual menurut Nursalam (2011) meliputi:
1. Menguatkan harapan yang realistis kepada pasien terhadap kesembuhan .
Harapan merupakan salah satu unsur yang penting dalam dukungan sosial. Orang bijak mengatakan “hidup tanpa harapan, akan membuat orang putus asa dan bunuh diri”. Perawat harus meyakinkan kepada pasien bahwa sekecil apapun kesembuhan, misalnya akan memberikan ketenangan dan keyakinan pasien untuk berobat.
2. Pandai mengambil hikmah.
Peran perawat dalam hal ini adalah mengingatkan dan mengajarkan kepada pasien untuk selalu berfikiran positif terhadap semua cobaan yang dialaminya. Dibalik semua cobaan yang dialami pasien, pasti ada maksud dari Sang Pencipta. Pasien harus difasilitasi untuk lebih mendekatkan diri kepada Sang Pencipta dengan jalan melakukan ibadah secara terus menerus. Sehingga pasien diharapkan memperoleh suatu ketenangan selama sakit.
3. Ketabahan hati.
Karakteristik seseorang didasarkan pada keteguhan dan ketabahan hati dalam menghadapi cobaan. Individu yang mempunyai kepribadian yang kuat, akan tabah dalam menghadapi setiap cobaan. Individu tersebut biasanya mempunyai keteguhan hati dalam menentukan kehidupannya. Ketabahan hati sangat dianjurkan kepada PHIV. Perawat dapat menguatkan diri pasien dengan memberikan contoh nyata dan atau mengutip kitab suci atau pendapat orang bijak; bahwa Tuhan tidak akan memberikan cobaan kepada umatNYA, melebihi kemampuannya (Al. Baqarah, 286). Pasien harus diyakinkan bahwa semua cobaan yang diberikan pasti mengandung hikmah, yang sangat penting dalam kehidupannya.


2.2   Pemeriksaan Fisik
1.      Keadaan umum : bergantung pada luas, lokasi timbulnya lesi, dan daya tahan tubuh klien.
2.      Tanda Vital : secara umum mengalami peningkatan TTV , pada kondisi awal atau saat peradangan dapat terjadi peningkatan suhu tubuh atau demam. Fokus Pengkajian pada Pemeriksaan head to toe : General survey.
3.      Integumen : adanya vesikel-vesikel berkelompok yang nyeri, edema disekitar lesi, dapat pula timbul ulkus, pada infeksi sekunder. Juga dapat timbul diaforesis.
4.      Kepala : mata ; dikaji adanya vesikel atau tida, tidak ada masa, nyeri tekan, dan penurunan penglhatan. Hidung ;tidak ada sekret, tidak ada lesi. Telinga ; tidak ada edema, tidak ada nyeri tekan.
5.      Leher : trakea simetris, pembesaran kelenjar tiroid dan vena jugularis (-), tidak ada nyeri tekan.
6.      Thoraks : bentuk; simetris, pernafasan; reguler, tidak ada otot bantu nafas.
7.      Abdomen : bentuk; simetris, tidak ada benjoan, tidak nyeri tekan, tidak ada pembesaran hepar. Perkusi; suara timpani.
8.      Genetalia : Pria ; daerah yang perlu diperhatikan adalah gland penis, batang penis, uretra, dan daerah anus. Wanita ; daerah yang perlu diperhatikan adalah labia mayora dan minora, klitoris, introitus vaginalis, dan serviks. Jika timbul lesi maka harus dicatat jenis, bentuk, ukuran,/luas, warna, dan keadaan lesi.
9.      Ekstremitas : tidak ada luka dan spasme otot.

2.3   Tanda dan Gejala
Tanda-tanda dan gejala HIV primer atau akut antara lain:
1. Demam atau panas
Menyerupai demam pada umumnya, yaitu suhu tubuh yang tinggi bisa berkisaar antara 38-40 derajat selsius. Demam terjadi ketika tubuh membentuk antibodi dalam melawan virus.
2. Sakit kepala
Adalah efek dari timbulnya demam, ketika demam muncul maka disusul dengan sakit kepala, namun gejala ini tidak selalu ada.

3. Nyeri otot
Sakit atau pegal-pegal pada badan merupakan kondisi umum yang bisa disebabkan oleh penyakit HIV tahap awal, bedakan dengan pegal-pegal akibat kelelahan. Nyeri otot di sini dipengaruhi oleh kondisi tubuh yang meriyang bersamaan dengan demam.
4. Ruam
Memang ini ciri-ciri HIV yang tidak selalu ada dan kehadirannya pun seringkali diabaikan lantaran ruam yang muncul hanya samar-samar, tidak seperti pada campak yang tampak jelas.
5. Menggigil
Ketika suhu tubuh naik tinggi dibanding dengan lingkungan atau suhu ruangan, maka seseorang bisa mengalami menggigil.
6. Sakit tenggorokan
Rasa mirip dengan ketika terkena radang tenggorokan.
7. Sariawan pada Mulut atau alat kelamin
8. Pembesaran Kelenjar getah bening, terutama pada leher.
9. Nyeri sendi
10. Keringat malam
11. Diare

Gejala HIV Fase Laten, setelah infeksi awal seseorang mungkin tidak memiliki gejala apapun. Ini disebut fase laten. Pada beberapa orang, pembengkakan kelenjar getah bening tetap terjadi selama fase laten ini. Jika tidak, maka tidak ada tanda-tanda dan gejala khusus. Perkembangan penyakit bervariasi antar individu dimana kondisi ini dapat berlangsung dari beberapa bulan sampai lebih dari 10 tahun. Selama periode ini, virus terus berkembang biak secara aktif dan menginfeksi dan membunuh sel-sel sistem kekebalan tubuh. Padahal sistem kekebalan tubuh kita berfungsi untuk melawan bakteri, virus, dan penyebab infeksi lainnya. Sel-sel kekebalan tubuh yang diserang oleh virus HIV yaitu sel-sel yang merupakan pejuang infeksi primer, yang disebut CD4+ atau sel T4. Gejala Awal Infeksi HIV Setelah sistem kekebalan tubuh melemah, seseorang yang terinfeksi HIV dapat mengembangkan gejala berikut: Lemah Berat badan turun Demam dan sering berkeringat Infeksi jamur persisten atau sering terjadi Ruam kulit persisten atau kulit terkelupas Kehilangan memori jangka pendek Infeksi herpes pada mulut, genital, atau anus. Berkembang menjadi AIDS Jika tidak menerima pengobatan, HIV ini biasanya berkembang menjadi AIDS dalam waktu sekitar 10 tahun. Pada saat AIDS berkembang, sistem kekebalan tubuh telah rusak parah, membuat seseorang rentan terhadap infeksi.

Tanda dan gejala AIDS merupakan tanda infeksi oportunistik sebagai berikut:
1. Keringat berlebihan di malam hari
2. Menggigil atau demam lebih tinggi dari 100 F (38 C) selama beberapa minggu
3. Batuk, karena seringnya terkena peradangan atau infeksi di tenggorokan
4. Sulit atau sakit saat menelan
5. Sesak napas, bisa terjadi akibat pneumonia atau paru-paru basah yang sering disebabkan oleh mikoorganisme pneumocystic carinii
6. Diare kronis, maksudnya adalah menderita diare yang lama meskipun telah diobati namun tak kunjung sembuh
7. Bintik-bintik putih
8. Persistent atau lesi yang tidak biasa di lidah atau di mulut (sariawan)
9. Sakit kepala
10. Kelelahan yang terus menerus
11. Penglihatan kabur dan terdistorsi
12. Berat badan turun drastis
13. Ruam kulit atau benjolan
Orang dengan AIDS rentan untuk juga terhadap berbagai kanker seperti sarkoma Kaposi, kanker leher rahim, dan kanker sistem kekebalan yang disebut limfoma. Setelah diagnosis AIDS ditegakkan, rata-rata waktu survival diperkirakan 2-3 tahun.

2.4   Penatalaksanaan
Belum ada penyembuhan untuk AIDS, jadi perlu dilakukan pencegahan Human Immunodeficiency Virus (HIV) untuk mencegah terpajannya Human Immunodeficiency Virus (HIV), bisa dilakukan dengan :
1.      Melakukan abstinensi seks / melakukan hubungan kelamin dengan pasangan yang tidak terinfeksi.
2.      Memeriksa adanya virus paling lambat 6 bulan setelah hubungan seks terakhir yang tidak terlindungi.
3.      Menggunakan pelindung jika berhubungan dengan orang yang tidak jelas status Human Immunodeficiency Virus (HIV) nya.
4.      Tidak bertukar jarum suntik,jarum tato, dan sebagainya.
5.      Mencegah infeksi kejanin / bayi baru lahir.
Penatalaksanaan untuk kasus HIV (human immunodeficiency virus) adalah dengan memberikan terapi antiretroviral (ARV) yang berfungsi untuk mencegah sistem imun semakin berkurang yang berisiko mempermudah timbulnya infeksi oportunistik. Hingga kini, belum terdapat penatalaksanaan yang bersifat kuratif untuk menangani infeksi HIV. Walau demikian, terdapat penatalaksanaan HIV yang diberikan seumur hidup dan bertujuan untuk mengurangi aktivitas HIV dalam tubuh  penderita sehingga memberi kesempatan bagi sistem imun, terutama CD4 untuk dapat diproduksi dalam jumlah yang normal. Pengobatan kuratif dan vaksinasi HIV masih memerlukan penelitian lebih lanjut.
Prinsip pemberian ARV menggunakan 3 jenis obat dengan dosis terapeutik. Jenis golongan ARV yang rutin digunakan :
1. NRTI (nucleoside and nucleotide reverse transcriptaser inhibitors) dan NNRTI (non-nucleoside reverse transcriptase inhibitors): berfungsi sebagai penghambat kinerja enzim reverse transcriptase (enzim yang membantu HIV untuk berkembang dan aktif dalam tubuh pejamu)
2. PI (protease inhibitors), menghalangi proses penyatuan dan maturasi HIV
3. INSTI (integrase strand transfer inhibitors), mencegah DNA HIV masuk ke dalam nucleus.

Pemberian ARV diinisiasi sedini mungkin sejak penderita terbukti menderita infeksi HIV.
Pilihan ARV lini pertama untuk dewasa adalah sebagai berikut :
1. DF (Tenofovir) 300mg + 3TC (Lamivudine) 150mg atau FTC (Emtricitabine) 200mg + EFV (Efavirenz) 600mg: Umumnya dalam bentuk KDT (kombinasi dosis tetap) atau AZT (Zidovudine) 300mg +3TC (Lamivudine) 150mg + EFV(Efavirenz) 600mg atau NVP (Nevirapine) 150mg
2. TDF (Tenofovir) 300mg +3TC (Lamivudine) 150mg atau FTC (Emtricitabine) 200mg + NVP (Nevirapine) 150mg
TDF tidak boleh dimulai jika CCT (creatine clearance test) < 50ml/menit, atau pada kasus diabetes lama, hipertensi tak terkontrol dan gagal ginjal. AZT tidak boleh digunakan bila Hb <10g/dL sebelum terapi. Kombinasi 3 dosis tetap (KDT) yang umum tersedia: TDF+3TC+EFV.
Efek Samping ARV :
Selama 1 bulan awal pemberian ARV, penting untuk dilakukan evaluasi untuk memantau respon tubuh terhadap pengobatan, baik efek yang dirasakan secara fisik maupun psikologis. Efek yang sering dirasakan pada awal penggunaan ARV berupa mual, urtika, limbung/kehilangan keseimbangan, lemas, pusing, dan gangguan tidur. Keadaan ini dapat timbul pada masa awal penggunaan ARV, dan akan berkurang saat kadar ARV mulai stabil dalam darah.
Follow Up Terapi :
Pemantauan rutin dilakukan setiap 3 hingga 6 bulan sekali. Yang dipantau termasuk dari keluhan yang dirasakan selama penggunaan ARV, pemeriksaan fisik, hingga pemeriksaan laboratorium terutama CD4, viral load dan baseline.














BAB 3
PENUTUP
3.1  Kesimpulan
Adapun kesimpulan yang dapat penulis simpulkan mengenai makalah ini adalah:
HIV (Human Immuno–Devesiensi) adalah virus yang hanya hidup dalam tubuh manusia, yang dapat merusak daya kekebalan tubuh manusia. AIDS (Acguired Immuno–Deviensi Syndromer) adalah kumpulan gejala menurunnya gejala kekebalan tubuh terhadap serangan penyakit dari luar.
Tanda dan Gejala Penyakit AIDS seseorang yang terkena virus HIV pada awal permulaan umumnya tidak memberikan tanda dan gejala yang khas, penderita hanya mengalami demam selama 3 sampai 6 minggu tergantung daya tahan tubuh saat mendapat kontak virus HIV tersebut.
Hingga saat ini penyakit AIDS tidak ada obatnya termasuk serum maupun vaksin yang dapat menyembuhkan manusia dari Virus HIV penyebab penyakit AIDS yang ada hanyalah pencegahannya saja.

3.2  Saran
Adapun saran-saran dari kami yang mungkin akan berguna bagi kita semua, yaitu:
1.      Bagi kita sebagai manusia, hendaknya selalu mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan berusaha menghindarkan diri dari hal-hal yang bisa menyebabkan AIDS.
2.      Jangan melakukan hubungan seksual diluar nikah (berzinah), dan jangan berganti-ganti pasangan seksual.
3.      Apabila berobat dengan menggunakan alat suntik, maka pastikan dulu apakah alat suntik itu steril atau tidak.
4.      Apabila melakukan tranfusi darah, terlebih dahulu perikasakan apakah tranfusi darah itu bebas dari virus HIV.
5.      Bagi kita sebagai generasi muda, jauhilah obat-obatan terlarang terutama narkotika melalui alat suntik, alat-alat tato, anting tindik, dan semacamnya yang bisa saja menularkan AIDS, karena alat-alat seperti itu tidak ada gunanya. Dan selalu hindarkan diri dari pergaulan bebas yang bersifat negatif.
6.      Apabila ada seminar-seminar, penyuluhan-penyuluhan, iklan ataupun brosur-brosur, yang mengimpormasikan tentang AIDS, sebaiknya kita memperhatikan dengan baik, agar segala sesuatu tentang AIDS dapat diketahui, sehingga kita bisa menghindarkan diri sejak dini dari AIDS.
7.      Bagi orang yang mengetahui dirinya telah terinfeksi virus AIDS hendaknya menggunakan kondom apabila melakukan hubungan seksual, agar virus AIDS tidak menular pada pasangan seksualnya.
8.      Bagi pemerintah, hendaknya terus gencar dalam memerangi AIDS misalnya dengan memberikan penyuluhan, dan penutupan tempat-tempat prostitusi untuk mengurangi penyakit masyarakat. Selain itu, pemerintah juga seharusnya menjamin penderita AIDS agar tidak mendapatkan tekanan mental ataupun tindakan diskriminatif.




















DAFTAR PUSTAKA

Djuanda, adhi. 2007. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Jakarta: Balai Penerbit FKUI

Mandal,dkk. 2008. Penyakit Infeksi. Jakarta: Erlangga Medical Series

Widoyono. 2005. Penyakit Tropis: Epidomologi, penularan, pencegahan, dan pemberantasannya.. Jakarta: Erlangga Medical Series






Tidak ada komentar:

Posting Komentar