BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Human Immunodeficiency Virus (HIV) adalah sebuah
retrovirus yang menginfeksi sel-sel sistem imun, menghancurkan atau merusak
fungsi dari sel-sel sistem imun. Stadium yang paling lanjut dari infeksi HIV
adalah Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS) (WHO, 2013). Virus HIV
ditemukan dalam cairan tubuh terutama pada darah, cairan sperma, cairan vagina,
dan air susu ibu. Virus tersebut merusak kekebalan tubuh manusia dan
mengakibatkan turun dan hilangnya daya tahan tubuh sehingga mudah terjangkit
penyakit infeksi lainnya (Nursalam & Kurniawati, 2007). Penurunan imunitas
dipengaruhi oleh beberapa faktor. Faktor yang perlu diperhatikan oleh tenaga
kesehatan adalah stresor psikososial. Aspek psikososial menurut Stewart (1997)
dibedakan menjadi tiga hal, antara lain: (1) stigma sosial; (2) diskriminasi
terhadap orang yang terinfeksi HIV; (3) terjadinya waktu yang lama terhadap
respon psikologis mulai penolakan, marah, tawar-menawar, dan depresi berakibat
pada keterlambatan upaya pencegahan dan pengobatan. Lingkup terkecil dari
lingkungan sosial pasien adalah keluarga. Dukungan sosial terutama dari
keluarga adalah penting, dan sangat menentukan perkembangan penyakit yang dapat
menurunkan kondisi kesehatan pasien, mempercepat progresivitas penyakit hingga
timbul kematian.
Data dari WHO tentang jumlah
orang yang terinfeksi HIV di Indonesia pada tahun 2011 berkisar 380.000 jiwa.
Data ini selalu meningkat tiap lima tahunnya, yakni pada tahun 2006 tercatat
sebanyak 180.000 jiwa dan pada tahun 2001 berkisar 12.000 jiwa (WHO, 2013b).
Pada tahun 2013 ini, Ditjen PP & PL Kementerian Kesehatan Republik
Indonesia merilis data tentang penemuan kasus baru HIV pada tahun 2012 mencapai
21.511. Data ini meningkat daripada tahun sebelumnya pada 2011 sejumlah 21.031.
Jumlah penderita HIV khusus Propinsi Jawa Timur, seperti yang disampaikan oleh
Dinas Kesehatan Propinsi Jawa Timur pada tahun 2011 tercatat sebanyak 2646
jiwa, terjadi peningkatan dari tahun sebelumnya sejumlah 2233 jiwa. Data hingga
Juni 2012 menunjukkan bahwa Kabupaten A dan Kabupaten Tulung Agung termasuk
dalam zona merah distribusi kasus AIDS di Propinsi Jawa Timur (Dinkes Provinsi
Jawa Timur, 2012). Data secara nasional mengenai TKI yang positif terinfeksi
HIV & AIDS belum terdokumentasi dengan baik. Namun, terdapat sumber
menyatakan bahwa terjadi kewaspadaan oleh pihak Dinas Tenaga Kerja,
Transmigrasi, dan Kependudukan (Disnakertransduk) Jawa Timur mengenai
penyebaran kasus HIV & AIDS di Propinsi Jawa Timur adalah dari mantan tenaga
kerja-tenaga kerja Indonesia (Depkes, 2013). Data jumlah pekerja di Jawa timur
yang terjangkit HIV & AIDS sebanyak 1700-an, dengan 10% diantaranya adalah
mantan Tenaga Kerja Indonesia (ANTARA, 2011).
Individu
dengan HIV & AIDS yang mendapat perawatan di rumah sakit akan mengalami
kecemasan dan stres pada semua tingkat usia. Penyebab kecemasan yang dialami
pasien tersebut salah satu faktor yang mempengaruhi selain dari petugas
kesehatan adalah keluarga yang menunggui selama perawatan. Keluarga juga sering
merasa cemas dengan perkembangan keadaan pasien, pengobatan, dan biaya
perawatan. Meskipun dampak tersebut tidak secara langsung kepada pasien, tetapi
secara psikologis pasien akan merasakan perubahan perilaku dari keluarga yang
menungguinya selama perawatan (Marks, 1998 dalam Subowo, 1992). Pasien menjadi
semakin stres dan berpengaruh terhadap proses penyembuhannya karena penurunan
respon imun. Ader (1885) dalam Subowo (1992) telah membuktikan bahwa individu
yang mengalami kegoncangan jiwa akan mudah terserang penyakit, karena pada
kondisi stres akan terjadi penekanan sistem imun. Ada keterkaitan antara
lingkungan sosial (keluarga) pasien HIV & AIDS dengan progresifitas
penyakit tersebut, membuat penulis ingin mengetahui bagaimana gambaran reaksi
psikologis (respon stres) pada keluarga Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang
terinfeksi virus HIV. Dukungan dari lingkungan sosial (keluarga) sangat
dibutuhkan pasien HIV & AIDS sehubungan dengan rasa putus asa yang dialami
pasien sejak pasien tersebut dinyatakan terinfeksi virus HIV. Harapannya,
dengan adanya respon emosi yang positif dari keluarga dapat mengurangi stres
yang dialami pasien.
Penatalaksanaan untuk
kasus HIV (human immunodeficiency virus) adalah dengan memberikan terapi
antiretroviral (ARV) yang berfungsi untuk mencegah sistem imun semakin
berkurang yang berisiko mempermudah timbulnya infeksi oportunistik. Hingga
kini, belum terdapat penatalaksanaan yang bersifat kuratif untuk menangani
infeksi HIV. Walau demikian, terdapat penatalaksanaan HIV yang diberikan seumur
hidup dan bertujuan untuk mengurangi aktivitas HIV dalam tubuh penderita sehingga memberi kesempatan bagi
sistem imun, terutama CD4 untuk dapat diproduksi dalam jumlah yang normal.
Pengobatan kuratif dan vaksinasi HIV masih memerlukan penelitian lebih lanjut.
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa saja pengkajian
biologi, psikologis, sosial, spiritual, dan kultural pada penderita HIV/AIDS ?
2. Bagaimana pemeriksaan fisik pada penderita
HIV/AIDS ?
3. Apa tanda dan gejala pada penderita HIV/AIDS ?
4. Bagamaina
penatalaksanaan pada penderita HIV/AIDS ?
1.3.
Tujuan
1. Mahasiswa mampu mengetahui pengkajian biologi,
psikologis, sosial, spiritual, dan kultural pada penderita HIV/AIDS.
2. Mahasiswa mampu mengetahui cara pemeriksaan fisik pada
penderita HIV/AIDS Mahasiswa mampu mengetahui peran perawat dalam mencegah WTS waria tidak terkena HIV AIDS.
3. Mahasiswa mampu mengetahui tanda dan gejala pada
penderita HIV/AIDS.
4. Mahasiswa mampu mengetahui penatalaksanaan
pada penderita HIV/AIDS.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pengkajian HIV
2.1.1 Pengkajian Biologis
Secara
imunologis, sel T yang terdiri dari limfosit T-helper, disebut limfosit CD4+
akan mengalami perubahan baik secara kuantitas maupun kualitas. HIV menyerang
CD4+ baik secara langsung maupun tidak langsung. Secara langsung, sampul HIV
yang mempunyai efek toksik akan menghambat fungsi sel T (toxic HIV). Secara
tidak langsung, lapisan luar protein HIV yang disebut sampul gp 120 dan anti
p24 berinteraksi dengan CD4+ yang kemudian menghambat aktivasi sel yang
mempresentasikan antigen (APC). Setelah HIV melekat melalui reseptor CD4+ dan co-reseptornya bagian
sampul tersebut melakukan fusi dengan membran sel dan bagian intinya masuk ke
dalam sel membran. Pada bagian inti terdapat enzim reverse transcripatase yang
terdiri dari DNA polimerase dan ribonuclease. Pada inti yang mengandung RNA,
dengan enzim DNA polimerase menyusun kopi DNA dari RNA tersebut. Enzim
ribonuclease memusnahkan RNA asli. Enzim polimerase kemudian membentuk kopi DNA
kedua dari DNA pertama yang tersusun sebagai cetakan.
Kode
genetik DNA berupa untai ganda setelah terbentuk, maka akan masuk ke inti sel.
Kemudian oleh enzim integrase, DNA copi dari virus disisipkan dalam DNA pasien.
HIV provirus yang berada pada limfosit CD4+, kemudian bereplikasi yang
menyebabkan sel limfosit CD4 mengalami sitolisis (Stewart, 1997). Virus HIV
yang telah berhasil masuk dalam tubuh pasien, juga menginfeksi berbagai macam
sel, terutama monosit, makrofag, sel-sel mikroglia di otak, sel – sel hobfour
plasenta, sel-sel dendrit pada kelenjar limfe, sel- sel epitel pada usus, dan
sel langerhans di kulit. Efek dari infeksi pada sel mikroglia di otak adalah
encepalopati dan pada sel epitel usus adalah diare yang kronis (Stewart, 1997).
Gejala-gejala klinis yang ditimbulkan akibat infeksi tersebut biasanya baru
disadari pasien setelah beberapa waktu lamanya tidak mengalami kesembuhan.
Pasien yang terinfeski virus HIV dapat tidak memperlihatkan tanda dan gejala
selama bertahuntahun. Sepanjang perjalanan penyakit tersebut sel CD4+ mengalami
penurunan jumlahnya dari 1000/ul sebelum terinfeksi menjadi sekitar 200 –
300/ul setelah terinfeksi 2 – 10 tahun.
2.1.2 Pengkajian
Psikologis
Reaksi proses psikologis hal-hal yang biasa di
jumpai.
|
Reaksi
|
Proses Psikologis
|
Hal-hal yag biasa
dijumpai
|
|
Shock
(kaget, goncangan batin)
|
Merasa
bersalah, marah, tidak berdaya
|
Rasa
takut, hilang akal, frustasi, rasa sedih, ssah acting out
|
|
Mengucilkan
diri
|
Merasa
cacat dan tidak berguna, menutup diri
|
Khawatir
menginfeksi orang lain, murung
|
|
Membuka
status secara terbatas
|
Ingin
tahu reaksi orang lain, pengalihan stress, ingin dicintai
|
Penolakan,
stress, konfrontasi
|
|
Mencari
orang lain yang HIV positif
|
Berbagi
rasa, pengenalan, keprcayaan, penguatan, dukungan sosial
|
Ketergantungan,
campur tangan, tidak percaya pada pemegang rahasia dirinya
|
|
Status
khusus
|
Perubahab
menjadi manfaat khusus, perbedaan menjadi hal yang istimewa, dibutuhkan oleh
yang lainnya.
|
Ketergantungan,
dikotomi kita dan mereka (semua orang diliha sebagai terinfeksi HIV dan
direspon seperti itu), over identification
|
|
Perilaku
mementingkan orang lain
|
Komitme
dan kesatuan kelompok, kepuasan memberi dan berbagi perasaan sebagai
kelompok.
|
Pemadaman,
reaksi dan kompensasi yang berlebihan
|
Respon
Psikologis (penerimaan diri) terhadap Penyakit ada lima tahap reaksi emosi seseorang terhadap penyakit, yaitu :
1. Pengingkaran (denial), pada tahap pertama pasien menunjukkan
karakteristik perilaku pengingkaran, mereka gagal memahami dan mengalami makna
rasional dan dampak emosional dari diagnosa. Pengingkaran ini dapat disebabkan
karena ketidaktahuan pasien terhadap sakitnya atau sudah mengetahuinya dan
mengancam dirinya. Pengingkaran dapat dinilai dari ucapan pasien “saya di sini
istirahat.” Pengingkaran dapat berlalu sesuai dengan kemungkinan memproyeksikan
pada apa yang diterima sebagai alat yang berfungsi sakit, kesalahan laporan
laboratorium, atau lebih mungkin perkiraan dokter dan perawat yang tidak
kompeten. Pengingkaran diri yang mencolok tampak menimbulkan kecemasan,
pengingkaran ini merupakan buffer untuk menerima kenyataan yang sebenarnya.
Pengingkaran biasanya bersifat sementara dan segera berubah menjadi fase lain
dalam menghadapi kenyataan (Achir Yani, 1999).
2. Kemarahan (anger), apabila pengingkaran tidak dapat dipertahankan lagi, maka fase pertama
berubah menjadi kemarahan. Perilaku pasien secara karakteristik dihubungkan
dengan marah dan rasa bersalah. Pasien akan mengalihkan kemarahan pada segala
sesuatu yang ada disekitarnya. Biasanya kemarahan diarahkan pada dirinya
sendiri dan timbul penyesalan. Yang menjadi sasaran utama atas kemarahan adalah
perawat, semua tindakan perawat serba salah, pasien banyak menuntut, cerewet,
cemberut, tidak bersahabat, kasar, menantang, tidak mau bekerja sama, sangat
marah, mudah tersinggung, minta banyak perhatian dan iri hati. Jika keluarga
mengunjungi maka menunjukkan sikap menolak, yang mengakibatkan keluarga segan
untuk datang, hal ini akan menyebabkan bentuk keagresipan (Hudak & Gallo,
1996).
3. Sikap tawar menawar (bargaining), setelah marah-marah berlalu, pasien akan berfikir
dan merasakan bahwa protesnya tidak ada artinya. Mulai timbul rasa bersalahnya
dan mulai membina hubungan dengan Tuhan, meminta dan berjanji merupakan ciri
yang jelas yaitu pasien menyanggupi akan menjadi lebih baik bila terjadi
sesuatu yang menimpanya atau berjanji lain jika dia dapat sembuh (Achir Yani,
1999).
4. Depresi, selama fase ini pasien sedih/ berkabung mengesampingkan marah dan
pertahanannya serta mulai mengatasi kehilangan secara konstruktif. Pasien
mencoba perilaku baru yang konsisten dengan keterbatasan baru. Tingkat
emosional adalah kesedihan, tidak berdaya, tidak ada harapan, bersalah,
penyesalan yang dalam, kesepian dan waktu untuk menangis berguna pada saat ini.
Perilaku fase ini termasuk mengatakan ketakutan akan masa depan, bertanya peran
baru dalam keluarga intensitas depresi tergantung pada makna dan beratnya
penyakit (Netty, 1999).
5. Penerimaan dan
partisipasi, sesuai dengan berlalunya waktu dan pasien beradapatasi, kepedihan
dari kesabatan yang menyakitkan berkurang dan bergerak menuju identifikasi
sebagai seseorang yang keterbatasan karena penyakitnya dan sebagai seorang
cacat. Pasien
mampu bergantung pada orang lain jika perlu dan tidak membutuhkan dorongan
melebihi daya tahannya atau terlalu memaksakan keterbatasan atau
ketidakadekuatan (Hudak & Gallo, 1996). Proses ingatan jangka panjang yang
terjadi pada keadaan stres yang kronis akan menimbulkan perubahan adaptasi dari
jaringan atau sel. Adaptasi dari jaringan atau sel imun yang memiliki hormon
kortisol dapat terbentuk bila dalam waktu lain menderita stres, dalam teori
adaptasi dari Roy dikenal dengan mekanisme regulator
2.1.3 Pengkajian Sosial
Interaksi Sosial :
1. Gejala : masalah yang ditimbulkan oleh diagnosis,mis. Kehilangan
karabat/orang terdekat, teman, pendukung.rasa takut untuk mengungkapkannya pada
orang lain, takut akan penolakan/kehilangan pendapatan. Isolasi, keseian, teman
dekat ataupun pasangan yang meninggal karena AIDS. Mempertanyakan kemampuan
untuk tetap mandiri, tidak mampu membuat rencana.
2. Tanda : perubahan pada interaksi keluarga/ orang
terdekat.aktivitas yang tak terorganisasi.
2.1.4 Pengkajian Kultural
Faktor
budaya berkaitan juga dengan fenomena yang muncul dewasa ini dimana banyak ibu
rumah tangga yang “baik-baik” tertular virus HIV /AIDS dari suaminya yang
sering melakukan hubungan seksual selain dengan istrinya. Hal ini disebabkan oleh budaya permisif yang
sangat berat dan perempuan tidak berdaya serta tidak mempunyai bargaining
position (posisi rebut tawar) terhadap suaminya serta sebagian besar perempuan
tidak memiliki pengetahuan akan bahaya yang mengancamnya.
Kebijakan yang dilaksanakan oleh pemerintah untuk
menanggulangi masalah HIV /AIDS Selama ini adalah melaksanakan bimbingan sosial
pencegahan HIV /AIDS, pemberian konseling dan pelayanan sosial bagi penderita
HIV /AIDS yang tidak mampu. Selain itu adanya pemberian pelayanan kesehatan sebagai langkah
antisipatif agar kematian dapat dihindari, harapan hidup dapat ditingkatkan dan
penderita HIV /AIDS dapat berperan sosial dengan baik dalam kehidupanya
2.1.5 Pengkajian Spiritual
Respons Adaptif
Spiritual menurut Nursalam (2011) meliputi:
1. Menguatkan harapan yang realistis kepada pasien
terhadap kesembuhan .
Harapan
merupakan salah satu unsur yang penting dalam dukungan sosial. Orang bijak
mengatakan “hidup tanpa harapan, akan membuat orang putus asa dan bunuh diri”.
Perawat harus meyakinkan kepada pasien bahwa sekecil apapun kesembuhan,
misalnya akan memberikan ketenangan dan keyakinan pasien untuk berobat.
2. Pandai mengambil hikmah.
Peran
perawat dalam hal ini adalah mengingatkan dan mengajarkan kepada pasien untuk
selalu berfikiran positif terhadap semua cobaan yang dialaminya. Dibalik semua
cobaan yang dialami pasien, pasti ada maksud dari Sang Pencipta. Pasien harus
difasilitasi untuk lebih mendekatkan diri kepada Sang Pencipta dengan jalan
melakukan ibadah secara terus menerus. Sehingga pasien diharapkan memperoleh
suatu ketenangan selama sakit.
3. Ketabahan hati.
Karakteristik
seseorang didasarkan pada keteguhan dan ketabahan hati dalam menghadapi cobaan.
Individu yang mempunyai kepribadian yang kuat, akan tabah dalam menghadapi
setiap cobaan. Individu tersebut biasanya mempunyai keteguhan hati dalam
menentukan kehidupannya. Ketabahan hati sangat dianjurkan kepada PHIV. Perawat dapat menguatkan
diri pasien dengan memberikan contoh nyata dan atau mengutip kitab suci atau
pendapat orang bijak; bahwa Tuhan tidak akan memberikan cobaan kepada umatNYA,
melebihi kemampuannya (Al. Baqarah, 286). Pasien harus diyakinkan bahwa semua
cobaan yang diberikan pasti mengandung hikmah, yang sangat penting dalam
kehidupannya.
2.2 Pemeriksaan Fisik
1. Keadaan umum : bergantung pada luas, lokasi
timbulnya lesi, dan daya tahan tubuh klien.
2. Tanda Vital : secara umum mengalami peningkatan
TTV , pada kondisi awal atau saat peradangan dapat terjadi peningkatan suhu
tubuh atau demam. Fokus Pengkajian pada Pemeriksaan head to toe : General
survey.
3. Integumen : adanya vesikel-vesikel berkelompok
yang nyeri, edema disekitar lesi, dapat pula timbul ulkus, pada infeksi
sekunder. Juga dapat timbul diaforesis.
4. Kepala : mata ; dikaji adanya vesikel atau tida,
tidak ada masa, nyeri tekan, dan penurunan penglhatan. Hidung ;tidak ada
sekret, tidak ada lesi. Telinga ; tidak ada edema, tidak ada nyeri tekan.
5. Leher : trakea simetris, pembesaran kelenjar
tiroid dan vena jugularis (-), tidak ada nyeri tekan.
6. Thoraks : bentuk; simetris, pernafasan; reguler,
tidak ada otot bantu nafas.
7. Abdomen : bentuk; simetris, tidak ada benjoan,
tidak nyeri tekan, tidak ada pembesaran hepar. Perkusi; suara timpani.
8. Genetalia : Pria ; daerah yang perlu
diperhatikan adalah gland penis, batang penis, uretra, dan daerah anus. Wanita
; daerah yang perlu diperhatikan adalah labia mayora dan minora, klitoris,
introitus vaginalis, dan serviks. Jika timbul lesi maka harus dicatat jenis,
bentuk, ukuran,/luas, warna, dan keadaan lesi.
9. Ekstremitas : tidak ada luka dan spasme otot.
2.3 Tanda
dan Gejala
Tanda-tanda dan gejala HIV primer
atau akut antara lain:
1. Demam atau panas
Menyerupai demam pada umumnya, yaitu suhu tubuh yang
tinggi bisa berkisaar antara 38-40 derajat selsius. Demam
terjadi ketika tubuh membentuk antibodi dalam melawan virus.
2. Sakit kepala
Adalah efek dari timbulnya demam, ketika demam
muncul maka disusul dengan sakit kepala, namun gejala ini tidak selalu ada.
3. Nyeri otot
Sakit atau pegal-pegal pada badan merupakan kondisi umum
yang bisa disebabkan oleh penyakit HIV tahap awal, bedakan dengan pegal-pegal
akibat kelelahan. Nyeri otot di sini dipengaruhi oleh kondisi tubuh yang meriyang
bersamaan dengan demam.
4. Ruam
Memang ini ciri-ciri HIV yang tidak selalu ada dan
kehadirannya pun seringkali diabaikan lantaran ruam yang muncul hanya
samar-samar, tidak seperti pada campak yang tampak jelas.
5. Menggigil
Ketika suhu tubuh naik tinggi dibanding dengan
lingkungan atau suhu ruangan, maka seseorang bisa mengalami menggigil.
6. Sakit tenggorokan
Rasa mirip dengan ketika terkena radang tenggorokan.
7. Sariawan pada Mulut
atau alat kelamin
8. Pembesaran Kelenjar
getah bening, terutama pada leher.
9. Nyeri sendi
10. Keringat malam
11. Diare
Gejala HIV Fase Laten, setelah infeksi awal
seseorang mungkin tidak memiliki gejala apapun. Ini disebut fase laten. Pada
beberapa orang, pembengkakan kelenjar getah bening tetap terjadi selama fase
laten ini. Jika tidak, maka tidak ada tanda-tanda dan gejala khusus.
Perkembangan penyakit bervariasi antar individu dimana kondisi ini dapat
berlangsung dari beberapa bulan sampai lebih dari 10 tahun. Selama periode ini,
virus terus berkembang biak secara aktif dan menginfeksi dan membunuh sel-sel
sistem kekebalan tubuh. Padahal sistem kekebalan tubuh kita berfungsi untuk
melawan bakteri, virus, dan penyebab infeksi lainnya. Sel-sel kekebalan tubuh
yang diserang oleh virus HIV yaitu sel-sel yang merupakan pejuang
infeksi primer, yang disebut CD4+ atau sel T4. Gejala Awal Infeksi HIV Setelah
sistem kekebalan tubuh melemah, seseorang yang terinfeksi HIV dapat
mengembangkan gejala berikut: Lemah Berat badan turun Demam dan sering
berkeringat Infeksi jamur persisten atau sering terjadi Ruam kulit persisten
atau kulit terkelupas Kehilangan memori jangka pendek Infeksi herpes pada
mulut, genital, atau anus. Berkembang menjadi AIDS Jika tidak menerima
pengobatan, HIV ini biasanya berkembang menjadi AIDS dalam waktu sekitar 10
tahun. Pada saat AIDS berkembang, sistem kekebalan tubuh telah rusak parah,
membuat seseorang rentan terhadap infeksi.
Tanda dan gejala AIDS merupakan tanda infeksi
oportunistik sebagai berikut:
1. Keringat berlebihan di
malam hari
2. Menggigil atau demam
lebih tinggi dari 100 F (38 C) selama beberapa minggu
3. Batuk, karena seringnya
terkena peradangan atau infeksi di tenggorokan
4. Sulit atau sakit saat
menelan
5. Sesak napas, bisa
terjadi akibat pneumonia atau paru-paru basah yang sering disebabkan oleh
mikoorganisme pneumocystic carinii
6. Diare kronis, maksudnya
adalah menderita diare yang lama meskipun telah diobati namun tak kunjung
sembuh
7. Bintik-bintik putih
8. Persistent atau lesi
yang tidak biasa di lidah atau di mulut (sariawan)
9. Sakit kepala
10. Kelelahan yang terus
menerus
11. Penglihatan kabur dan
terdistorsi
12. Berat badan turun
drastis
13. Ruam kulit atau
benjolan
Orang dengan AIDS rentan untuk juga
terhadap berbagai kanker seperti sarkoma Kaposi, kanker leher rahim, dan kanker
sistem kekebalan yang disebut limfoma. Setelah diagnosis AIDS ditegakkan,
rata-rata waktu survival diperkirakan 2-3 tahun.
2.4 Penatalaksanaan
Belum ada penyembuhan untuk AIDS,
jadi perlu dilakukan pencegahan Human Immunodeficiency Virus (HIV) untuk
mencegah terpajannya Human Immunodeficiency Virus (HIV), bisa dilakukan dengan
:
1.
Melakukan
abstinensi seks / melakukan hubungan kelamin dengan pasangan yang tidak
terinfeksi.
2.
Memeriksa
adanya virus paling lambat 6 bulan setelah hubungan seks terakhir yang tidak
terlindungi.
3.
Menggunakan
pelindung jika berhubungan dengan orang yang tidak jelas status Human
Immunodeficiency Virus (HIV) nya.
4.
Tidak
bertukar jarum suntik,jarum tato, dan sebagainya.
5.
Mencegah
infeksi kejanin / bayi baru lahir.
Penatalaksanaan untuk kasus HIV
(human immunodeficiency virus) adalah dengan memberikan terapi antiretroviral
(ARV) yang berfungsi untuk mencegah sistem imun semakin berkurang yang berisiko
mempermudah timbulnya infeksi oportunistik. Hingga kini, belum terdapat
penatalaksanaan yang bersifat kuratif untuk menangani infeksi HIV. Walau
demikian, terdapat penatalaksanaan HIV yang diberikan seumur hidup dan
bertujuan untuk mengurangi aktivitas HIV dalam tubuh penderita sehingga memberi kesempatan bagi
sistem imun, terutama CD4 untuk dapat diproduksi dalam jumlah yang normal.
Pengobatan kuratif dan vaksinasi HIV masih memerlukan penelitian lebih lanjut.
Prinsip pemberian ARV menggunakan 3
jenis obat dengan dosis terapeutik. Jenis golongan ARV yang rutin digunakan :
1. NRTI (nucleoside and nucleotide reverse
transcriptaser inhibitors) dan NNRTI (non-nucleoside reverse transcriptase
inhibitors): berfungsi sebagai penghambat kinerja enzim reverse transcriptase
(enzim yang membantu HIV untuk berkembang dan aktif dalam tubuh pejamu)
2. PI (protease inhibitors), menghalangi proses
penyatuan dan maturasi HIV
3. INSTI (integrase strand transfer inhibitors),
mencegah DNA HIV masuk ke dalam nucleus.
Pemberian ARV diinisiasi sedini mungkin sejak
penderita terbukti menderita infeksi HIV.
Pilihan ARV lini pertama untuk dewasa adalah sebagai
berikut :
1. DF (Tenofovir) 300mg + 3TC (Lamivudine) 150mg atau FTC
(Emtricitabine) 200mg + EFV (Efavirenz) 600mg: Umumnya dalam bentuk KDT
(kombinasi dosis tetap) atau AZT (Zidovudine) 300mg +3TC (Lamivudine) 150mg +
EFV(Efavirenz) 600mg atau NVP (Nevirapine) 150mg
2. TDF (Tenofovir) 300mg +3TC (Lamivudine) 150mg
atau FTC (Emtricitabine) 200mg + NVP (Nevirapine) 150mg
TDF tidak boleh dimulai jika CCT
(creatine clearance test) < 50ml/menit, atau pada kasus diabetes lama,
hipertensi tak terkontrol dan gagal ginjal. AZT tidak boleh digunakan bila Hb
<10g/dL sebelum terapi. Kombinasi 3 dosis tetap (KDT) yang umum tersedia:
TDF+3TC+EFV.
Efek Samping ARV :
Selama 1 bulan awal pemberian ARV,
penting untuk dilakukan evaluasi untuk memantau respon tubuh terhadap
pengobatan, baik efek yang dirasakan secara fisik maupun psikologis. Efek yang
sering dirasakan pada awal penggunaan ARV berupa mual, urtika,
limbung/kehilangan keseimbangan, lemas, pusing, dan gangguan tidur. Keadaan ini
dapat timbul pada masa awal penggunaan ARV, dan akan berkurang saat kadar ARV
mulai stabil dalam darah.
Follow Up Terapi :
Pemantauan rutin dilakukan setiap 3
hingga 6 bulan sekali. Yang dipantau termasuk dari keluhan yang dirasakan
selama penggunaan ARV, pemeriksaan fisik, hingga pemeriksaan laboratorium
terutama CD4, viral load dan baseline.
BAB 3
PENUTUP
3.1
Kesimpulan
Adapun
kesimpulan yang dapat penulis simpulkan mengenai makalah ini adalah:
HIV
(Human Immuno–Devesiensi) adalah virus yang hanya hidup dalam tubuh manusia,
yang dapat merusak daya kekebalan tubuh manusia. AIDS (Acguired Immuno–Deviensi
Syndromer) adalah kumpulan gejala menurunnya gejala kekebalan tubuh terhadap
serangan penyakit dari luar.
Tanda
dan Gejala Penyakit AIDS seseorang yang terkena virus HIV pada awal permulaan
umumnya tidak memberikan tanda dan gejala yang khas, penderita hanya mengalami
demam selama 3 sampai 6 minggu tergantung daya tahan tubuh saat mendapat kontak
virus HIV tersebut.
Hingga
saat ini penyakit AIDS tidak ada obatnya termasuk serum maupun vaksin yang
dapat menyembuhkan manusia dari Virus HIV penyebab penyakit AIDS yang ada
hanyalah pencegahannya saja.
3.2
Saran
Adapun
saran-saran dari kami yang mungkin akan berguna bagi kita semua, yaitu:
1.
Bagi
kita sebagai manusia, hendaknya selalu mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha
Esa, dan berusaha menghindarkan diri dari hal-hal yang bisa menyebabkan AIDS.
2.
Jangan
melakukan hubungan seksual diluar nikah (berzinah), dan jangan berganti-ganti
pasangan seksual.
3.
Apabila
berobat dengan menggunakan alat suntik, maka pastikan dulu apakah alat suntik
itu steril atau tidak.
4.
Apabila
melakukan tranfusi darah, terlebih dahulu perikasakan apakah tranfusi darah itu
bebas dari virus HIV.
5.
Bagi
kita sebagai generasi muda, jauhilah obat-obatan terlarang terutama narkotika
melalui alat suntik, alat-alat tato, anting tindik, dan semacamnya yang bisa
saja menularkan AIDS, karena alat-alat seperti itu tidak ada gunanya. Dan
selalu hindarkan diri dari pergaulan bebas yang bersifat negatif.
6.
Apabila
ada seminar-seminar, penyuluhan-penyuluhan, iklan ataupun brosur-brosur, yang
mengimpormasikan tentang AIDS, sebaiknya kita memperhatikan dengan baik, agar
segala sesuatu tentang AIDS dapat diketahui, sehingga kita bisa menghindarkan
diri sejak dini dari AIDS.
7.
Bagi
orang yang mengetahui dirinya telah terinfeksi virus AIDS hendaknya menggunakan
kondom apabila melakukan hubungan seksual, agar virus AIDS tidak menular pada
pasangan seksualnya.
8.
Bagi
pemerintah, hendaknya terus gencar dalam memerangi AIDS misalnya dengan
memberikan penyuluhan, dan penutupan tempat-tempat prostitusi untuk mengurangi
penyakit masyarakat. Selain itu, pemerintah juga seharusnya menjamin penderita
AIDS agar tidak mendapatkan tekanan mental ataupun tindakan diskriminatif.
DAFTAR PUSTAKA
Djuanda, adhi. 2007. Ilmu Penyakit
Kulit dan Kelamin. Jakarta: Balai Penerbit FKUI
Mandal,dkk. 2008. Penyakit Infeksi.
Jakarta: Erlangga Medical Series
Widoyono. 2005. Penyakit Tropis:
Epidomologi, penularan, pencegahan, dan pemberantasannya.. Jakarta: Erlangga
Medical Series
Tidak ada komentar:
Posting Komentar